Data SSGI 2021-2022, Tapsel Tertinggi Stunting di Sumut, Labura Terendah

Minggu, 26 Maret 2023 | 13:49 WIB

Medan, MPOL : Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) menduduki posisi tertinggi prevalansi anak stunting tertinggi di Sumatera Utara (Sumut) pada tahun 2022, yakni 39,4 persen.

Padahal sebelumnya di tahun 2021 Tapsel berada diangka 30,8 persen. Namun di 2022 ini bertambah 8,6 poin sehingga menjadi 39,4 persen. Demikian data dari hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan Republik IndonesiaI (Kemenkes RI) tahun 2021 – 2022.

Dari data SSGI itu juga disebutkan, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) menduduki posisi terendah prevalensi stunting yakni 7,3 persen. Dalam hal ini Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Labura berhasil menurunkan 23,6 poin dari 30,9 persen di tahun 2021.

Sementara untuk posisi kedua tertinggi stunting adalah Kabupaten Padang Lawas (Palas) dengan angka 35,8 persen. Turun 6,2 poin dari 42,0 persen di tahun 2021. Posisi ketiga tertinggi Mandailing Natal (Madina), 34,2 persen. Turun 13,5 poin dari 47,7 persen di tahun 2021. TPPS Palas dan Madina dalam hal ini berhasil menurunkan angka prevalansi stunting di daerahnya.

Posisi ke 4 tertinggi Phakpak Barat dengan 30,8 persen, turun 10 poin dari 40,8 di tahun 2021. Ke 5, Tapanuli Tengah dengan 20,5 persen atau bertambah 5,2 poin dari 25,3 persen di tahun 2021. Ke 6, Humbang Hasundutan dengan 29,6 persen atau bertambah 2,9 poin dari 26,7 persen di tahun 2021.

Selain Labura, Kabupaten Nias Utara di posisi paling rendah kedua dengan prevalansi 11,9 persen. Turun 22,5 poin dari 34,4 persen di tahun 2021. Selanjutnya Deliserdang, meski bertambah 1,4 poin dari 12,5 persen di 2021 menjadi 13,9 di tahun 2022, masih menempati terendah ketiga.

Terendah ke 4 Kota Pematangsiantar dengan prevalansi 14,3 persen atau turun 0,7 poin dari 15,0 persen di tahun 2021. Posisi kelima ditempati Kota Sibolga, 14,5 persen. Turun 11,3 poin dari 25,8 persen di tahun 2021. Ke 6 Asahan dengan 15,3 persen, turun 3,6 poin dari 18,9 persen di tahun 2021. Sedang Kota Medan terendah ke 7 dengan 15,4 persen atau menurun 4,5 poin dari 19,9 persen di tahun 2021.

Dari hasil SSGI di Sumut itu terdapat 9 daerah Kab/Kota yang mengalami penambahan prevalansi stunting. Yakni Tapsel (8,6 persen), Tapteng (5,2 persen), Humbahas (2,9 persen), Tebingtinggi (2,3 persen), Nias Barat (1,5 persen), Deliserdang (1,4 persen), Sergai (1,1 persen), Tanjungbalai (0,8 persen) dan Taput (0,7 persen).

Sedang yang mengalami penurunan ada 23 Kab/Kota yakni Labura, Nias Utara, Siantar, Sibolga, Asahan, Medan, Simalungun, Gunung Sitoli, Langkat, Binjai, Batubara, Labuhanbatu, Karo, Nias, Samosir, Labusel, Nisel, Dairi, P. Sidimpuan, Paluta, Pakpak Bharat, Madina dan Palas.

Kemudian Kabupaten Toba menjadi satu-satunya daerah di Sumut yang tidak bertambah ataupun berkurang prevalansi stuntingnya dari tahun 2021 ke 2022. Yakni tetap 24,8 persen.

Provinsi Sumut sendiri menurut SSGI 2021 – 2022 berada di level 16 dengan 21,1 persen, turun 4,7 poin dari sebelumnya 25,8 persen di tahun 2021. Provinsi Bali terendah nomor 1 prevalensi stunting secara nasional yakni 8,0 persen, turun 2,9 poin dari 10,9 persen di 2021.

Sedang yang tertinggi Prov. Nusa Tenggara Timur dengan 35,3 persen. Turun 2,5 persen dari 37,8 di 2021. Walaupun terjadi penurunan, namun angka stunting NTT masih tinggi.

Kepala Perwakilan BKKBN Sumut, M. Irzal, SE, ME, yang dikonfirmasi membenarkan data SSGI tersebut. Menurut Irzal, keberhasilan Kab. Labura menurunkan prevalensi stunting sebesar 23,6 poin hingga menjadi 7,3 persen di 2022 yang sebelumnya 30,9 persen di 2021, dikarenakan TPPS Kab. Labura telah bekerja ekstra keras.

Bahkan, Pemkab Labura melalui APBD nya banyak mengucurkan dananya untuk penurunan angka stunting diwilayahnya. “Mudah- mudahan kerja keras Pemkab Labura ini ditiru oleh Kab/Kota lainnya di Sumut,” kata Irzal sembari menegaskan bahwa Prov. Sumut yakin berhasil menurunkan stunting 14 persen di 2024. (Rh)