Dibuka Dra. Rabiatun Adawiyah

BKKBN Sumut Gelar Webinar 100 Profesor Bicara Stunting Tingkat Provsu

Kamis, 8 Juli 2021 | 10:41 WIB

Medan, MPOL : Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggelar Webinar 100 Profesor berbicara stunting secara nasional dan maraton di seluruh perwakilan Provinsi selama 3 hari dimulai tanggal 5-8 juli 2021. Kegiatan yang melibatkan Asosiasi Profesor Indonesia ini dalam rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke 28 yang jatuh pada 29 Juni.

Dalam kegiatan yang mengambil tema “Langkah Awal Pencegahan dan Penurunan Stunting di Masyarakat”ini, BKKBN Perwakilan Provinsi Sumatera Utara (Provsu) melalui Zoom Meeting dan Live Youtube, Rabu (7/7/2021) menghadirkan 3 narasumber yaitu Prof. Drs. Heru Santosa, M.S, Ph.D, Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd dan Prof. Dr. Ir. Albiner Siagian. Target peserta sebanyak 300 orang, terdiri dari masyarakat umum, mahasiswa, SDM aparatur dan tenaga pengelola program Bangga Kencana di tingkat Kab/Kota.

Dalam laporannya, Ketua Penyelenggara Koordinator Bidang Pelatihan dan Pengembangan BKKBN Sumut, Dra. Tengku Lafalinda, mengharapkan webinar ini dapat memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan bagi kita terkait dengan stunting. “Mengerti secara utuh apa itu stunting dan bagaimana pencegahan dan penurunannya serta dapat diaplikasikan oleh masyarakat utamanya pada level keluarga,” harapnya

Sementara Kepala BKKBN RI, Dr. (HC), dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) mengatakan,, saat ini pemuda merupakan sasaran dan tujuan utama pemerintah dalam pencegahan stunting. Ia berharap pemerintah dan seluruh lini masyarakat bekerjasama dalam menyiapkan tenaga muda Indonesia yang berkualitas berdaya saing dan mempunyai peranan penting dalam menciptakan keluarga yang sejahtera.

“Tugas kita saat ini menyiapkan tenaga muda berkualitas dan berdaya saing. Karena kalau tidak, maka bonus demografi akan lewat begitu saja tanpa bisa kita memetik atau mentranformasikannya. Mereka yang muda mempunyai peranan penting dalam kesejahteraan. Mereka yang akan menjadi pasangan hidup baru dan melahirkan generasi baru, mereka itu bisa menjadi penentu tidak menikah pada usia muda, tidak putus sekolah kemudian kehamilan tidak terlalu banyak dan tidak berulang-ulang sehingga dapat bekerja dengan baik dan tidak penggangguran. Ini lah menjadi tujuan utama kita untuk menciptakan keluarga yang bebas stunting,” ucap Hasto.

Hasto berharap, nantinya kajian itu menjadi referensi yang baik untuk membuat suatu kebijakan. “Saya yakin BKKBN dapat mengambil langkah-langkah untuk membuat kebijakan yang tepat dengan berbagai pertimbangan, tantangan penurunan stunting menuju 14% di tahun 2024 sungguh luarbiasa besar. Semoga dengan usaha Profesor kita diberikan kemudahan dalam membantu menciptakan generasi yang bermutu untuk Indonesia Maju,” tutupnya.

Deputi Lalitbang BKKBN RI, Prof. drh. M. Rizal Martua Damanik, M.RepSc, Ph.D mengatakan, stunting saat ini merupakan ancaman terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Data Riskesdas menunjukkan satu dari tiga anak Indonesia mengalami stunting. Sesuai peta wilayah angka prevalensi stunting yang tinggi ada sektiar 6.600 desa yang tersebar di 360 Kab/Kota. Secara garis besar 3 fase intervensi telah disiapkan dalam upaya percepatan penurunan stunting, yaitu fase calon pasangan usia subur yang memiliki peran strategis untuk memastikan kondisi calon pengantin berada dalam kondisi ideal untuk menikah dan hamil (fase pranikah), fase hamil dan fase pasca salin.

“Upaya untuk menurunkan angka stunting harus dilakukan secara timbal balik, melalui hubungan secara vertical maupun horizontal dengan pemerintah dan masyarakat. Karena derajat penurunan angka stunting dipengaruhi beberapa faktor yaitu, lingkungan yang sehat, pendidikan, kerjaan serta perilaku hidup sehat dan pelayanan kesehatan,” tambah Rizal sembari berharap webinar ini dapat menambah informasi dan pengetahuan bagi keluarga di Indonesia terutama dalam upaya pencagahan stunting,” tutup Rizal.

Sementara Plt Kepala Perw BKKBN Sumut, Dra Rabiatun Adawiyah yang membuka kegiatan itu mengharapkan, Webinar 100 Profesor ini dapat memberikan tambahan wawasan bagi kita dan seluruh keluarga Indoensia terkait stunting. “Saya mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih atas komitmen dan partisipasi seluruh pihak yang mensukseskan kegiatan ini. Semoga apa yang kita kerjakan ini dapat diberikan kemudahan oleh Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa serta dapat memberikan manfaat bagi program Bangga Kencana,” ucap Rabiatun.

Diketahui stunting saat ini menjadi perhatian penting bagi pemerintah Indonesia sehingga perlu ditangani segera. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 100 Hari Pertama Kehamilan (HPK). Pada bayi stunting akan tampak di bawah 5 tahun atau diumur 2 tahun. Dengan tinggi badan anak tidak sesuai umurnya bahkan mempengaruhi pertumbuhan dan perlembangan otak.

Stunting juga rentan terhadap penyakit, menurunkan produktivitas, menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemiskinan serta kesenjangan. Dan prevelansi stunting selama 10 tahun terakhir menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan. Sehingga Presiden RI, Joko Widodo memberikan amanah kepada BKKBN sebagai ketua pelaksana program percepatan penurunan stunting pada 25 Januari 2021 lalu. Sebab, penurunan stunting memerlukan intervensi terpadu mencakup intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif.

Berbagai hal sudah dipersiapkan BKKBN dalam merespon mandat tersebut meliputi draft tentang Peraturan Presiden. Kemudian rencana aksi nasional serta perangkat pendukung dalam implemetasinya. Stunting di Indonesia masih cukup tinggi yaitu 27.67 pada 2020. Amanat Presiden dalam rapat kabinet terbatas akhir Januari lalu menargetkan stunting 14% di tahun 2024 nanti. Indonesia saat ini masuk negara prevalensi stunting kelima terbesar di dunia, termasuk masalah gizi lain mencakup wasting (kurus), anemia pada remaja dan ibu hamil, kelebihan gizi (obesitas) pada balita dan orang dewasa. **