Dari Satu Diskusi Virtual

Anggapan Remeh Membuat Penyebaran Covid-19 Bisa Meluas Tak Terbendung

Minggu, 2 Agustus 2020 | 10:52 WIB

Medan, MPOL : Dalam setiap peristiwa, selalu ada muncul istilah baru, bahkan Bahasa baru, baik yang sengaja dibuat oleh para ahli dan pemerintah, maupun yang muncul dari masyarakat.

Kasus Covid-19 di Indonesia kian bertambah dari hari ke hari. Terhitung sejak pasien pertama diumumkan pada 2 Maret 2020, jumlah kasus di Indonesia sudah lebih dari 100 ribu, dan angka ini terus meningkat dari hari kehari. Demikian juga jumlah warga yang meninggal sudah ribuan orang. Namun, rupanya belum semua masyarakat memahami bahaya virus ini. Bahkan di antara mereka, masih tak percaya dengan corona.

Dari satu diskusi virtual bersama beberapa media dan pakar sosial, ekonomi dan kesehatan Sumatera Utara yang dipimpin oleh Drs. Syaiful Syafri, MM mantan Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara, Sabtu petang, Dr. dr. Umar Zein memaparkan beberapa catatannya.

Disebutkan, beberapa waktu yang lalu muncul sebutan COVIDIOT di kalangan netizen. Bahasa ungkapan ini dimuat dalam Urban Dictionary, sebuah situs berupa kamus online tentang bahasa-bahasa slang atau bahasa tidak baku yang bersifat musiman. Definisi Covidot disebutkan: A person who acts like an irresponsible idiot during the Covid-19 pandemic, ignoring common sense, decency, science, and professional advice leading to the further spread of the virus and needless deaths of thousands. Jadi, Covidiot berarti orang yang mengabaikan peringatan untuk menghindari penyebaran penyakit Covid-19. Selain itu covidiot juga menjadi sebutan bagi orang yang menimbun barang-barang seperti masker, tisu basah, atau bahan makanan, akibat adanya pandemi corona ini.

Masih banyak orang yang tak percaya dengan bahaya virus ini, mengapa? Hoax dan konspirasi tentang Corona merasuki bangsa Indonesia dan disampaikan berulang-ulang di media dengan berbagai versi dan cara penyampaiannya, sehingga diyakini sebagai kebenaran. Sebagian masyarakat menganggap remeh Corona, karena merasa kecil kemungkinan dirinya terpapar virus ini. Padahal, hal ini bisa membuat penyebaran virus Corona meluas tak terbendung, dan kepercayaan masyarakat pada pemerintah ambruk.

Bahkan, kembali dipertanyakan kenapa banyak tenaga medis yang berguguran di Indonesia, termasuk di Sumatera Utara?

Sebelum dilakukan penelitian, kita hanya dapat menduga-duga beberapa kemungkinan. Tetapi, kalau Pemerintah mampu dan mau melakukan penelitian, penyebab pasti tentu diketahui, dan pencegahan ke depan dapat dilakukan dengan pasti. Bertambahnya korban masyarakat dan tenaga medis dan tidak berkurangnya komunitas Covidiot ini, bukan tidak mungkin menambah ketidakpercayaan masyarakat terhadap penanganan Covid 19 ini.

Jujur, masyarakat Indonesia masih belum mampu belajar mencari informasi dari sumber resmi atau ahli yang terpercaya soal Covid-19. Juga belum optimalnya peran tokoh agama, adat hingga selebriti untuk melakukan pendidikan soal bahaya Covid-19.

Sederet Cerita Warga Takut di-Rapid Test, karena takut “dituduh” pengidap Corona dan diisolasi, warga yang dirawat, setelah diperiksa swab, langsung minta pulang karena takut “Dicovidkan” oleh rumah sakit. Sepintas terlihat bahwa, semakin ke pedesaan, komunitas Covidiot ini semakin nyata dan ini menyulitkan petugas kesehatan melaksanakan sosialisasi dalam pelaksanaan Protokol Kesehatan. Bulan Juni 2020 lalu, seorang seniman menghebohkan masyarakat dengan pernyataannya. Dalam rekaman video berdurasi 5 menitnya, seniman itu menyebut Covid-19 hanya akal-akalan pemerintah memboroskan anggaran negara.

Belum nampak titik terang dalam situasi perang melawan virus corona ini. ***