Tersangka TPPU Poldasu Bebas Berkeliaran, Korban: Ada Konspirasi??

Selasa, 26 Januari 2021 | 00:01 WIB

Medan,MPOL: Setelah diperiksa sebagai tersangka pada Selasa (27/19/2020) lalu, tersangka Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), Erlin Wijaya alias Aling bebas berkeliaran.

Tidak diketahui alasan penyidik Pismondev Ditreskrimsus Poldasu tidak melakukan penahanan kepada tersangka, wanita berusia 41 tahun warga Jalan Jalan Platina Raya Kec Medan Labuhan tersebut sebab konfirmasi yang dilayangkan kepada Dirreskrimsus Kombes John CE Nababan tidak memperoleh jawaban.

Bahkan, dikabarkan sampai saat ini pihak penyidik Pismondev Ditreskrimsus Poldasu belum juga mengirimkan berkas tersangka ke JPU (Jaksa Penuntut Umum) Kejatisu.

Sebelumnya juga, AKBP Josua Tampubolon saat menjabat Kasubdit Pismondev), saat ini Kapolres Samosir juga tidak bersedia memberi keterangan saat dikonfirmasi.

Padahal sesuai UU Money Laundring (TPPU), tidak ada disebutkan penangguhan penahanan atau tahanan kota dan sejenisnya. Apalagi korban TPPU, Daniel Rachmat menderita kerugian sebesar Rp.1,5 milyar.

Menanggapi tindakan penyidik yang tidak melakukan penahanan terhadap tersangka Erlin Wijaya alias Aling, korban Daniel Rachmat mengaku sangat kecewa.

Dia mengatakan, seharusnya penyidik tidak hanya memandang hak dari tersangka tetapi lebih melihat kerugian dan hal-hal yang paling buruk yang dialami korban apalagi dengan peristiwa itu usaha korban sangat merugi sehingga untuk menggaji para karyawan sempat tersendat.

“Saya sangat kecewa dengan tindakan penyidik yang tidak melihat sejauh mana efek dari perbuatan tersangka dalam aktifitas produksi perusahaan dan terhadap kehidupan korban dan keluarganya,” kata Daniel Rachmat kepada Medan Pos, Senin (25/1) di Medan.

“Kerugian saya cukup besar untuk apa ditetapkan tersangka kalau tidak dilakukan penahanan. Sebagai korban saya mau tau apa yang jadi pertimbangan penyidik tidak menahan Aling. Seharusnya penyidik lebih melihat kerugian yang dialami korban daripada melihat kepentingan tersangka. Sampai kini, jangankan kerugian saya dipulangkan minta maaf aja tidak ada,” tegas korban.

Dia menilai penyidik tidak profesional menangani kasus tersebut karena pertimbangan penyidik lebih mengedepankan kepentingan tersangka daripada korban atau pelapor.

Diketahui, kasus TPPU itu berawal dari bisnis jual beli kacang-kacangan antara Hakim alias Akim, suami Erlina Wijaya alias Aling dengan Daniel Rachmat sejak tahun 2016 silam.

Awalnya, Halim dalam setiap pembelian kacang dibayar namun sejak tanggal 16 Agustus 2019 sampai 10 Oktober 2020, Halim tidak lagi melakukan pembayaran. Bahkan setiap ditagih, Halim selalu memberikan alasan macam-macam dan terakhir dia mengaku uangnya sudah dibelikan mobil dan barang-barang lainnya.

Akhirnya, Daniel Rachmat melaporkan Halim ke Polres Pelabuhan Belawan. Halim pun ditangkap dan kini sudah mendekam di Rutan Labuhan Deli untuk menjalani hukuman 3 tahun penjara.

Dalam pemeriksaan, Halim juga mengaku kalau uang tersebut dikirim ke rekening istrinya, Erlin Wijaya alias Aling. Lalu ditranfer lagi ke rekening Halim ke Bank BCA (Bank Central Asia).

Peristiwa itu dilakukan Halim berulang-ulang dengan tujuan untuk mengaburkan atau menyembunyikan asal usul uang tersebut.

“Menempatkan uang hasil tindak pidana kedalam lembaga keuangan berupa bank kemudian memindah-mindahkan uang tersebut ke beberapa rekening yang berbeda kemudian mengirimnya kembali ke rekening awal (rekening BCA milik Halim) untuk menyamarkan ataupun menyembunyikan uang tersebut,.

Daniel Rachmat juga mengaku akan melaporkan tindakan penyidik Pismondev ke Kapoldasu dan menyurati Kapolri, Komisi III DPR RI dan Kompolnas karena dia menilai dan menduga ada sesuatu atau konsfirasi dibalik tidak ditahannya tersangka.

“Saya akan melaporkan ke Kapoldasu dan menyurati Kapolri, Komisi III DPR RI dan Kompolnas. Saya menduga ada permainan dalam antara oknum peyidik dengan tersangka,” pungkas Daniel Rachmat.***