Terdakwa Syaftriani Tak Berhak Kutip Uang Nasabah PT Valbury

Selasa, 23 Februari 2021 | 21:48 WIB
Medan, MPOL: Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan diketuai Hendra Sutardodo, Selasa (23/2) melanjutkan persidangan perkara  Syatriani Deli alias Ria, warga Jalan Bromo Gg Trimo Medan yang didakwa melakukan penipuan  para nasabah yang berkedok jual beli emas/ dolar AS.
JPU Tri Chandra menghadirkan dua saksi yakni Antonius dan Irwan alias Pak Awan selaku karyawan PT Valbury Asia Future.
Antonius membenarkan terdakwa Syatriani adalah  sales marketing PT Valbury. Dalam operasionalnya terdakwa tidak dibenarkan menarik uang dari nasabah. “Kalau ada calon nasabah,terdakwa harus membawanya ke kantor untuk didaftarkan  sebagai Nasabah,” ujar Antonius.
Ditanya hakim apakah dua saksi korban Rahadian Faisal dan Syafei nasabah PT Valbury, saksi Antonius mengatakan kedua saksi korban tersebut tidak terdaftar sebagai nasabah PT Valbury. “Ada 68 orang mendatangi kantor PT Valbury mengajukan keberatan atas tindakan terdakwa Syaftriani,” ujar Antonius
Sementara Irwan mengakui mengenal terdakwa Syaftriani. Namun diam membantah catting soal uang kepada terdakwa. “Saya tidak menerima WA dari terdakwa soal keuangan nasabah,” ujar Irwan.
Tapi berdasarkan keterangan Pengacara terdakwa Syaftriani antara Irwan dengan terdakwa ada komunikasi melalui WhatsApp tentang pertanggungjawaban keuangan nasabah.
“Kalau bisa soal keuangan nasabah jangan dibahas di kantor,” itu bunyi WA terdakwa kepada Irwan selalu atasannya. Akibat perbedaan keterangan tersebut,Hakim Anggota Immanuel sedikit emosi.”
Mana keteranganmu yang benar, kamu jangan berbohong,” ujar Hakim Immanuel Tarigan kepada saksi Irwan. Akibat perbedaan keterangan saksi tersebut, sehingga sidang ditunda hingga Kamis (25/2) untuk menghadirkan bukti WA yang dipunyai terdakwa.
Sebelumnya dua saksi korban dihadirkan ke persidangan yakni Rahadian Faisal dan Syafeii yang mengaku rugi miliaran rupiah karena ditipu terdakwa.
“Rumah dan mobil sudah terjual, bahkan istri pun minta cerai karena semua harta ludes, karena ulah terdakwa Syatriani pak Hakim,” ujar Rahadian Faisal.
Menurut Faisal panggilan akrab Rahadian Faisal awalnya tertarik berbisnis dengan terdakwa Syatriani karena tergiur bujuk rayu terdakwa yang menjanjikan bunga dan mobil Pajero Sport. ”Saya tergiur karena terdakwa menjanjikan mobil Pajero setelah berbisnis dengan terdakwa,”ujar Faisal yang mengaku telah menyerahkan uang Rp 695 juta kepada terdakwa.
Ternyata setelah uang diserahkan,terdakwa Syatriani tidak pernah menepati janjinya seperti memberikan bunga dan mobil Pajero tersebut,kecuali uang keuntungan dibawah Rp 100 juta.Tapi setelah itu terdakwa minta setoran kembali untuk mendapatkan bonus sebuah mobil Pajero Sport.
Ternyata impian Faisal untuk mendapatkan Pajero Sport itu pun sirna,setelah terdakwa Syatriani tidak memberi keuntungan investasi tersebut dan minta kembali uang yang telah diinvesnya kepada terdakwa.
Faisal langsung mempertanyakan kepada PT Vulbary apakah dirinya termasuk salah satu nasabah disana. Ternyata jawaban PT Vulbary bahwa terdakwa Syatriani sudah dipecat dan Faisal tidak terdaftar sebagai nasabah PT Vulbary.
Merasa tertipu,akhirnya Faisal mengadukan hal tersebut ke Polsekta Medan Area. ”Selain saya masih ada 80 nasabah lain yang merasa dirugikan pak hakim,”ujar Faisal terbata-bata sambil menangis.
Faisal berharap Hakim memberikan putusan yang setimpal kepada terdakwa Syatriani. ”Bayangkanlah pak hakim,rumahtangga saya hampir berantakan, karena harta yang dicari bertahun-tahun telah sirna. Sedangkan terdakwa dan keluarganya membangun rumah dan membeli mobil,” ujar Faisal yang mengaku tetangga terdakwa tersebut.
Faisal menjelaskan selain terdakwa Syatriani, kemungkinan ada pelaku lain yang menikmati uang tersebut. ”Mohon ini jadi perhatian pak hakim,” ujar Faisal penuh harap.
Sementara Syafei, korban lainnya juga memberi kesaksian di PN Medan. ”Saya juga korban bujuk rayu terdakwa, sehingga Rp 455 juta lewong,” ujarnya.
Syafei mengaku juga diimingi keuntungan 10 persen serta bonus sebuah mobil Pajero Sport jika berinvestasi dengan terdakwa Syatriani.
Awalnya Syafei mendapat keuntungan Rp 128 juta dari terdakwa yang diberikan secara bertahap.Setelah keuntungan diterima, terdakwa Syatriani kembali minta tambahan setoran berikutnya.
Setelah uang diterima Rp 455 juta, terdakwa selalu menghindar untuk mengembalikan uang Syafei dengan berbagai alasan.