Selain Dilaporkan ke Polisi, Bos PT ABL Ternyata Masih Berutang Rp300 Juta Lebih

Kamis, 8 April 2021 | 14:40 WIB

 

Medan, MPOL: Kebobrokan PT Agung Bumi Lestari(ABL)
tampaknya terus terkuak,setelah Himawan Loka alias Ahui menejernya dipidana karena penggelapan Rp398 juta kini giliran Dirutnya Andrian Suwito dilaporkan ke polisi dan ternyata masih berutang Rp 300 juta lebih kepada pemilik UD Naga Sakti Perkasa (NSP), Edwin

Hal itu terungkap dari keterangan Muhammad Sahri,bekas kernet PT ABL yang dihadirkan dalam sidang lanjutan perkara Perdata antara PT ABL kontra UD NSP di Pengadilan Negeri Medan,Kamis(8/5)

Menurut Sahri sebenarnya bukan UD NSP yang punya hutang seperti yang diajukan PT ABL,melainkan Andrian Suwito( PT ABL) yang masih punya hutang kepada Edwin ( UD NSP).” Saya mengantar barang pembungkus nasi milik PT ABL kepada Edwin setiap tiga kali seminggu.Dari tempat Edwin, saya membawa tisue,pipit dan tusuk sate ke PT ABL ” ujar Sahri

Dari pengambilan barang ke Edwin sudah dibayar lunas,setelah diberikan bon warna putih.Sedangkan barang Edwin yang diambil PT ABL belum dibayar.”Saya taksir mencapai Rp 300 juta lebih,” ujar Sahri

Selain itu, Adrian Suwito juga dilaporkan ke Polres Batubara dan Polrestabes Medan dengan tuduhan pencemaran nama baik, penipuan dan penggelapan.Namun dari kasus tersebut Sahri tidak tau apakah pengaduan tersebut ditindaklanjuti atau tidak.Tapi Sahri mengakui Ahui anak buah Andrian Suwito sudah dihukum karena penipuan dan penggelapan uang milik Edwin.

Sebaliknya Edwin pun dilaporkan PT ABL melalui Ferry Tandiono,selaku sopir ke Poldasu dengan tuduhan penipuan dan penggelapan.Ternyata di PN hingga Mahkamah Agung( MA) tuduhan PT ABL tersebut tidak dapat dibuktikan,sehingga Edwin divonis bebas.Padahal Edwin sempat ditahan selama 6 bulan

Terpisah saksi Syafrida karyawan UD NSP membenarkan Andrian Suwito masih punya hutang kepada Edwin.Ini terungkap setiap kali barang dikirim ke PT ABL bon putih masih berada di UD NSP.”Itu berarti PT ABL belum melakukan pembayaran barang dari Edwin,” jelas Syafrida

Untuk mendengar kesimpulan penggugat dan tergugat sidang menarik perhatian pengunjung itu dilanjutkan 2 pekan mendatang

Sepekan lalu,penggugat dan tergugat menyerahkan bukti- bukti kepada Hakim.

Persidangan tersebut sempat berlaga argumen antara Kuasa Hukum Penggugat dan Tergugat soal bukti yang diajukan penggugat berupa bon kuning yang tidak sesuai dengan pengantar bukti penggugat.Namun Majelis Hakim menyarankan penggugat untuk memperbaiki bukti-bukti penggugat tersebut.

Usai persidangan,Kuasa Hukum Tergugat Ranto Sibarani kepada wartawan membenarkan kerancuan bukti-bukti penggugat yang disodorkan kepada Majelis Hakim.” Iya benar, penggugat mengajukan berupa bon kuning dan tidak ada tanda tangan tergugat.Artinya bon itu tidak asli,tapi dalam pengantar bukti penggugat dibuat seolah asli.

”Tergugat meragukan keabsahan bukti-bukti penggugat tersebut dan keberatan tergugat diterima Hakim sekaligus memerintahkan kepada penggugat untuk memperbaiki pengantar bukti tersebut.”Kalau bon kuning bisa dijadikan pelunasan pembayaran,saya kira pengusaha bisa bangkrut.Sebab bon penulasan bisa berulang-ulang,”katanya.

Menurut Ranto,bukti yang diajukan penggugat mengada-ada untuk berdalih karena tergugat sudah melaporkan bos PT ABL ke Poldasu /Polrestabes Medan soal dugaan memberikan informasi tidak benar dibawah sumpah sesuai bunyi pasal 242 KUHP.

Karena sudah dilaporkan ke polisi,penggugat mengajukan gugatan untuk menghindari laporan pidana tersebut.”Kami berharap penyidik Poldasu/Polrestabes Medan melanjutkan laporan Edwin tersebut.Sebab kliennya sudah ditahan selama 6 bulan,walau akhirnya dibebaskan oleh hakim,”ujar Ranto

Ironisnya,lanjut Ranto selama ditahan istri Edwin mengalami depresi sehingga harus keguguran anak pertamanya.

”Sekarang,apa tanggungjawab PT ABL yang telah menuduh Edwin melakukan penggelapan,”ujar pengacara berkepala plontos tersebut

Perseteruan antara PT Agung Bumi Lestari (ABL) yang berkedudukan di Kabupaten Batubara dengan rekan bisnisnya Edwin(43) pemilik UD Naga Sakti perkara (NSP) warga Jalan Brigjen Katamso Medan sebenarnya sudah berakhir,setelah Ahui alias Himawan Loka,selaku Manajer PT ABL dihukum 1 tahun 6 bulan karena melakukan penggelapan Rp 396 juta dari uang pembayaran yang ditarik dari Edwin. **