Korban TPPU di Poldasu “Meradang”, Tersangka diduga sedang diburu pihak bank #Abdul Hakim Siagian : Kata Hati Penyidik Bisa Buat Efek Jera

Selasa, 26 Januari 2021 | 20:47 WIB

Medan,MPOL: Korban kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) di Poldasu “meradang”. Pasalnya, penegak hukum yang diharapkannya sebagai “dewa penolong” justru diduga ada konspirasi.

“Uang saya milyaran rupiah diambil pelaku tapi pelaku justru dibebaskan. Dimana hukum itu, dimana kata hati penyidik itu. Sepertinya penyidiknya lebih memihak kepada pelaku,” kata Daniel Rachmat dengan nada sangat kecewa.

“Kalau penyidik mengatakan Erlin Wijaya alias Aling tidak ditahan demi kemanusiaan, bagaimana dengan korban yang mengalami kerugian milyaran. Apakah terhadap korbanya tidak ada rasa kemanusiaan,” ketusnya lagi.

Kalau begitu alasan penyidik, para pencari keadilan di Poldasu tidak akan pernah merasa puas, sebutya lagi.

Daniel Rachmat mengakui ditahan atau tidaknya seorang tersangka merupakan kewenangan penyidik.”Tapi yang saya minta agar penyidik merasa apa yang saya alami. Akibat perbuatan pelaku, produktifitas usaha saya terganggu karena untuk menggaji karyawan tak mampu. Seharusnya penyidik melihat ekses dari perbuatan itu. Hanya perbuatan satu orang para karyawan tak bisa lagi mendapat haknya apalagi dalam situasi Pandemi Covid-19 ini,” ujarnya.

Korban mengaku mendapat informasi kalau Erlin Wijaya menolak mendandatangani berita acara pemeriksaan. “Benar atau tidaknya informasi yang saya dapat kalau Erlina Wijaya menolak menandatangani berita acara pemeriksaan. Kalau benar dia menolak, kok bisa ya dia tidak ditahan,” imbuhnya.

Dia pun meminta kepada Kapoldasu Irjen Pol.Drs.Martuani Sormin M.Si untuk bisa melihat permasalahan yang dialaminya. “Saya yakin pak Kapoldasu Martuani Sormin tidak mengatahui kasus TPPU dengan tersangka Erlin Wijaya alias Aling (41) dan apapun yang diperbuat penyidik dalam menangani kasus ini bisa saja tidak diketahui pak Kapolda. Karena itu, saya meminta agar pak kapolda memonitor kasus itu dan bilamana oknum penyidik ada berkonspirasi dengan tersangka Erlin Wijaya, agar dilakukan tindakan. Saya menduga ada dibalik tidak dilakukannya penahanan terhadap tersangka, apalagi ini kasus money laundring yang diatur dalam UU khusus,” sebutnya.

Daniel Rachmat juga mengaku mendapat informasi kalau Erlin Wijaya kerap didatangi pihak bank soal kredit rumahnya. “Menurut informasi yang kami peroleh kalau tersangka Erlin Wijaya alias Aling kerap didatangi salah satu bank untuk menagih kredit atas agunan rumahnya dan tersangka selalu mengelak. Saya kwatir, Erlin Wijaya yang merupakan istri Halim als Akim yang kini mendekam di Rutan Tanjung Gusta dalam kasus penipuan, bisa “Menghilang”. Pihak Pinmondev Ditreskrimsus Poldasu supaya mengantisipasi manakala Erlin Wijaya kabur,” ujar korban.

Sebagaimana diketahui, sejak Erlin Wijaya diperiksa pada Selasa (27/10/2020) lalu, sampai sekarang masih bebas berkeliaran.

Tidak diketahui alasan penyidik Pismondev Ditreskrimsus Poldasu tidak melakukan penahanan kepada tersangka, wanita berusia 41 tahun warga Jalan Jalan Platina Raya Kec Medan Labuhan tersebut sebab konfirmasi yang dilayangkan kepada Dirreskrimsus Kombes John CE Nababan sampai saat ini tidak memperoleh jawaban.

Bahkan, dikabarkan sampai saat ini pihak penyidik Pismondev Ditreskrimsus Poldasu belum juga mengirimkan berkas tersangka ke JPU (Jaksa Penuntut Umum) Kejatisu.

Sebelumnya juga, AKBP Josua Tampubolon saat menjabat Kasubdit Pismondev), saat ini Kapolres Samosir juga tidak bersedia memberi keterangan saat dikonfirmasi.

Padahal sesuai UU Money Laundring (TPPU), tidak ada disebutkan penangguhan penahanan atau tahanan kota dan sejenisnya. Apalagi korban TPPU, Daniel Rachmat menderita kerugian sebesar Rp.1,5 milyar.

UU KHUSUS
Menanggapi kasus yang dialami Daniel Rachmat, praktisi hukum Dr. Abdul Hakim Siagian mengatakan, penyidik punya kewenangan ditahan atau tidaknya seorang tersangka walaupun itu dikategorikan masuk dalam UU Khusus.

Pun demikian, penyidik juga harus melihat ekses dari perbuatan itu. “Memang ada kalanya mengedepankan UU khusus dari KUHP umum (Leks Spesialis). Nah, ekses dari perbuatan itu apa. Apakah menyangkut nasib orang banyak atau tidak, disini sebetulnya pertimbangan penyidik. Kalau misalnya akibat dari perbuatan itu mengakibatkan banyak orang lain dirugikan, bolehlah seorang tersangka ditahan agar membuat efek jera,” katanya.

Diketahui, kasus TPPU itu berawal dari bisnis jual beli kacang-kacangan antara Hakim alias Akim, suami Erlina Wijaya alias Aling dengan Daniel Rachmat sejak tahun 2016 silam.

Awalnya, Halim dalam setiap pembelian kacang dibayar namun sejak tanggal 16 Agustus 2019 sampai 10 Oktober 2020, Halim tidak lagi melakukan pembayaran. Bahkan setiap ditagih, Halim selalu memberikan alasan macam-macam dan terakhir dia mengaku uangnya sudah dibelikan mobil dan barang-barang lainnya.

Akhirnya, Daniel Rachmat melaporkan Halim ke Polres Pelabuhan Belawan. Halim pun ditangkap dan kini sudah mendekam di Rutan Labuhan Deli untuk menjalani hukuman 3 tahun penjara.

Dalam pemeriksaan, Halim juga mengaku kalau uang tersebut dikirim ke rekening istrinya, Erlin Wijaya alias Aling. Lalu ditranfer lagi ke rekening Halim ke Bank BCA (Bank Central Asia).

Peristiwa itu dilakukan Halim berulang-ulang yakni menempatkan uang hasil tindak pidana kedalam lembaga keuangan berupa bank kemudian memindah-mindahkan uang tersebut ke beberapa rekening yang berbeda termasuk ke rekening istrinya, Erlin Wijaya alias Aling dan beberap rekening keluarganya, kemudian mengirimnya kembali ke rekening awal (rekening BCA milik Halim) untuk menyamarkan ataupun menyembunyikan uang tersebut.***