Justianus Simbolon Terdakwa Kasus Pembunuhan Rianto Simbolon Dituntut 20 Tahun Penjara, Kuasa Hukum Korban Kecewa

Jumat, 30 April 2021 | 19:27 WIB

Toba, MPOL : Justianus Simbolon terdakwa kasus pembunuhan dituntut hukuman penjara 20 tahun. Sementara para pelaku lainnya yakni, Bilhot Simbolon, Pahala Simbolon, Tahan Marlundak Simbolon dan Parlin Sinurat dituntut penjara masing-masing 19 tahun.

Tuntutan ini dibacakan Jaksa Penuntut Umum Chrispo Simanjuntak, SH di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri balige yang diketuai Lenny Megawati Napitupulu, SH didampingi hakim anggota Evelyne Napitupulu, SH dan Irene Sari M Sinaga, SH di Gedung Pengadilan Negeri Balige, Jumat (30/4/2021).

Adapun kuasa hukum terdakwa dan kelima terdakwa mengikuti sidang tuntutan dengan sistem zoom dari Lapas Pangururan.

JPU dengan yakin menuntut para pelaku dengan pasal 340 jo pasal 55 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Dalam kesempatan ini, majelis hakim mempersilahkan para terdakwa untuk melakukan pledoi/pembelaan secara lisan.

Para terdakwa pun mengungkapkan penyesalannya seraya meminta maaf kepada keluarga dan anak-anak korban.

Ketua majelis hakim mengungkapkan, walaupun para terdakwa telah meminta maaf dan menyesal akan perbuatannya, bukan berarti dapat mengurangi ancaman hukuman.

“Kemarin-kemarin jawabannya berbelit-belit, setelah tahu tuntutannya 20 tahun, baru kalian sadar dan meminta maaf,” ujar Lenny.

Sementara itu, kuasa hukum korban Dwi Ngai Sinaga SH, MH, didampingi Benri Pakpahan, SH yang turut hadir dalam persidangan merasa kecewa dengan tuntutan yang dibacakan jaksa dan berharap majelis hakim menjatuhkan vonis semaksimal mungkin.

“Kita kecewa dengan tuntutan ini, karena JPU seharusnya mempertimbangkan perencanaan para pelaku sudah sampai tiga kali dan berharap majelis hakim menjatuhkan vonis yang maksimal, hukuman mati,” ujar Dwi.

Dwi Sinaga menambahkan, bahwa dirinya dan rekan bukan semata-mata untuk memenjarakan orang, tapi demi tegaknya keadilan, dimana 7 orang anak yang masih kecil sudah menjadi yatim piatu.

“Supaya ada pelajaran kepada masyarakat, khususnya di Samosir untuk tidak terlalu mudah membunuh walaupun ada perselisihan,” tandasnya. *