Hukum Terciderai di PN Balige, Kompol RHA Dituntut 6 Tahun Vonis 2 Tahun * Maya SH: Laporkan Hakim ke KY RI

Minggu, 20 September 2020 | 20:07 WIB

Medan,MP: Hukum sepertinya sudah Terciderai oleh majelis hakim PN Balige, pasalnya, seorang anggota Polri Kompol Raja Hotman Ambarita yang terlibat pembakaran rumah dan lokasi usaha milik Rudolf Manurung di Tepi Danau Toba Desa Lumban Manurung Kelurahan Tuktuk, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir hanya divonis 2 tahun penjara dari tuntutan sebelumnya 6 tahun penjara.

Ironisnya, hukuman 2 tahun penjara tersebut termasuk potongan masa tahanan. Persidangan yang berlangsung secara virtual di PN Balige pada Kamis (17/9) pukul 17.30 wib itu dipimpin Ketua PN Balige selaku ketua majelis hakim, Lenny Megawaty Napitupulu SH MH dan 2 hakim anggota yakni Azhary Ginting SH dan Irene Sari Sinaga.

Maya Manurung SH, kuasa hukum korban.(dok)

Sebelumnya Jaksa, Juleser Simare-mare SH, telah membacakan tuntutan terdakwa Pamen Bid Dokkes Poldasu itu dengan 6 tahun kurungan penjara pada, Kamis (10/9) lalu di Pengadilan Negeri (PN) Balige.

” Raja Hotman Ambarita secara sah dan meyakinkan terbukti terlibat pembakaran rumah dan lokasi usaha milik Rudolf Manurung di Tepi Danau Toba Desa Lumban Manurung Kelurahan Tuktuk, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir dengan hukuman 2 tahun penjara potong masa tahanan selama masa persidangan dan memerintahkan terpidana dilakukan penahanan,” kata hakim Lenny Megawati Napitupulu dengan ketokan palu tiga kali.

Vonis 2 tahun penjara dipotong masa tahanan terhadap Kompol Raja Hotman Ambarita, langsung dibantah dan ditolak Jaksa Penuntut Umum (JPU), Krispo Simanjuntak SH.

” Lho, kok seperti itu putusannya Kak (majelis hakim_red), seharusnya minimal putusan terdakwa 4 tahun penjara” Kata JPU, Krispo Simanjuntak SH usai persidangan secara virtual dan seketika itu langsung di Off kan komputernya oleh salah satu staf pegawai PN Balige.

Terpisah, Korban Rudolf Manurung di dampingi kuasa hukumnya, Maya Manurung SH, Minggu (20/9) malam di Medan kepada wartawan mengatakan, vonis yang diberikan majelis hakim Lenny Megawaty Napitupulu terhadap Kompol Raja Hotman Ambarita sangat menciderai keadilan dan berpihak kepada terdakwa.

“Seharusnya majelis hakim mempertimbangkan kalau terdakwa adalah seorang perwira menengah (Pamen) Polri sebagai aparat penegak hukum dan tahu hukum, justru dia melanggar hukum,” tegas Rudolf Manurung.

Kemudian, sambung Rudolf, hakim juga harus mempertimbangkan kalau perbuatan jahat terpidana Raja Hotman Ambarita sudah berulang-ulang yang sebelumnya divonis hakim 3 bulan penjara dalam kasus penganiayaan terhadap korban (Rudolf Manurung red).

“Kompol Raja Hotman Ambarita sejak peristiwa pembakaran tempat usaha (hotel) dinyatakan DPO dan ditangkap di Riau. Kemudian, saat dia dalam tahanan jaksa, telah beberapa kali diperiksa Poldasu dalam kasus bom molotov mobil milik saya yang terjadi di garasi rumah saya di Sunggal dan deretan kejadian ini semua diketahui oleh hakim Lenny Megawaty Napitupulu dan Azhari Ginting, seharusnya bisa menjadi pertimbangan menjatuhkan hukuman. Hakim Lenny Megawaty Napitupulu tida lagi mempunyai rasa perikemanusiaan,” tegas Rudolf menambahkan 28 kali persidangan yang memakan waktu cukup menjenuhkan karena korban setiap persidangan datang dari Medan ke PN Balige.

” Selain jaksa akan banding, saya dan korban akan segera melaporkan Ketua majelis hakim merangkap Ketua PN Balige itu ke Komisi Yudisial RI di Jakarta, karena putusan itu telah menciderai hukum sekaligus bentuk kecewa korban selaku klien saya” timpal kuasa hukum, Maya Manurung SH.

Sebelumnya diketahui, Kompol Raja Hotman Ambarita terlibat dalam pembakaran rumah dan tempat usaha di tepi Danau Toba, di Desa Lumban Manurung Kelurahan Tuktuk, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir pada Juni 2018 lalu.

Kemudian, personil Subdit III Ditreskrimum Polda Sumut meringkus Kompol Raja Hotman Ambarita di Pekan Baru, Riau pada Rabu (5/2) lalu. Selain mengamank Kompol Raja Hotman Ambarita, polisi juga menangkap teman wanita tersangka bernama Rosmaida Br Manurung di Mojokerto.

Kedua tersangka ditangkap petugas diduga kuat pelaku pembakaran rumah di tepi Danau Toba milik Rudolf Manurung. Namun dalam persidangan Rosmaida ditangguhkan penahanannya oleh hakim dan dalam persidangan dituntut 8 tahun penjara, sidang pembacaan vonis direncanakan Oktober 2020.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Tatan Dirsan Atmadja sebelumnya menyampaikan, setelah melewati hukuman pidana umum, Kompol Raja Hotman Ambarita akan menjalani sidang kode etik. “Kan ada Propam nanti yang memeroses dia (pelaku),” ujarnya.

Tatan juga tidak menyangkal kalau Kompol Raja Hotman Ambarita berdinas di Biddokes Polda Sumut terancam Pemberhentian Dengan Tidak Hormat (PDTH) atau dipecat dari kepolisian.

“Kita lihat saja nanti prosesnya, ancamannya seperti apa. Ya, bisa saja (PDTH),” sebut Tatan.***