Gunakan Alat bekas untuk rapid test, Aktivis Wak Genk: Sengaja Menebar Virus Corona Wajib Dihukum Mati

Sabtu, 1 Mei 2021 | 02:38 WIB

Medan,MPOL: Dukungan dan desakan agar Poldasu mengusut tuntas dan memberikan hukuman berat kepada staf dan karyawan Kimia Farma yang menggunakan alat daur ulang dalam test antigen di Bandara Kuala Namu Internasional, datang dari berbagai kalangan.

Bahkan ada yang meminta agar penyidik menerapkan hukuman mati atau minimal hukuman seumur hidup bagi para tersangka karena dinilai tindakan mereka sudah menimbulkan kecemasan dan ketakutan masyarakat apalagi perbuatan mereka secara terang-terangan telah melawan program pemerintah agar Indonesia segera lepas dari penyebaran virus corona.

Aktivis, Muhammad Abdi Siahaan/Wak Genk berpendapat sama. Apresiasi setinggi-tingginya disampaikan kepada Kapoldasu Irjen Drs.RZ.Panca Putra Simanjuntak terlebih kepada penyidik Subdit IV/Tipidter Ditreskrimsus.

Wak Genk menilai menggunakan barang bekas untuk rapid test sweb antigen sama halnya dengan menebar penyakit untuk mematikan, apalagi virus Corona.

“Dalam kasus ini, aparat penegak hukum harus tegas dan tidak main-main karena tindakan mereka sama halnya dengan menebar penyakit mematikan,” tegas aktivis Sumatera Utara, Muhammad Abdi Siahaan/Wak Genk.

Dia menilai, tindakan mereka sangat tidak etis. Dalam situasi dunia dilanda Pandemi Covid-19 yang telah nyata membunuh jutaan manusia tapi mereka tidak perduli malah mencari kentungan pribadi dengan menabur benih penyakit.

Aktivis sosial kemasyarakatan itu sangat mendukung pernyataan Menteri BUMN Erick Tohir agar semua yang terkait, mengetahui dan yang melakukan dipecat dan diproses hukum secara tegas.

Penyidik harus merespon semua permintaan masyarakat, harus mengusut sampai ke akar-akarnya. “Dari tingkat bawah sampai atas harus diusut. Kemana aliran dana juga harus diungkap agar kejadian serupa tidak terulang lagi,” tegasnya lagi.

Dari pengakuan para tersangka, sebut Abdi, praktek daur ulang rapid test kepada para calon penumpang di Bandara KNIA sudah mereka lakukan sejak 17 Desember 2020 hingga penggerebekan 26 April 2021.

Bila dihitung lebih kurang 144 hari praktek itu mereka lakukan. Jika dalam satu hari rata-rata melakukan rapid test 150 orang dikali 144 hari maka telah melakukan rapid test terhadap 21.600 jiwa dengan bayaran Rp.200.000 per orang, maka uang yang mereka dapat sudah puluhan milyar rupiah, dalam waktu 4 bulan lebih.

“Nah kemana saja aliran uang itu. Apakah mungkin hanya yang 5 orang itu saja yang ngantongi, saya rasa tidak mungkin. Jadi kemana dibuat,itu yang penting untuk diusut agar semua terang benderang dan tidak ada yang merasa dikorbankan,” jelasnya.

Wak Genk juga menilai, ulah oknum tersebut dinilai mengkhinati profesi pelayan publik di bidang kesehatan.

Dia menyesalkan bahwa dalam kondisi yang serba perihatin masih ada orang yang mengambil kesempatan untuk memperkaya diri sendiri yang merugikan dan membahayakan nyawa orang lain.

Kepada Menteri BUMN dan Menteri kesehatan, seru Muh Abdi Siahaan, agar mengevaluasi kinerja pimpinan Kimia Farma.

“Kita minta agar Menteri BUMN mengevaluasi kinerja pimpinan Kimia Farma bila perlu dilakukan pemecatan,” ujarnya.

Sebelumnya, Kapoldasu Panca Putra Simanjuntak mengatakan, masih mendalami kemana saja uang itu digunakan para terduga tersangka. :”Kita masih mendalami apakah puluhan milyar uang itu disetor ke khas atau tidak. Namun, dari penyidikan sementara, uang itu diduga sebagian besar dikantongi para terduga,” jelasnya menambahkan, barang bukti uang yang disita Rp.149 juta.

Terhadap para terduga tersangka, PM selaku Bisnis Manager Kimia Farma, DJ, SR, M dan R semuanya warga Sumatera Barat, kata Kapoldasu, dipersangkakan melanggar UU kesehatan dengan ancaman penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar. Selain itu juga akan dijerat dengan UU perlindungan konsumen, dengan ancaman pidana maksimal 5 tahun dan denda Rp2 miliar.***