Diduga Menipu, Pasutri Pengusaha Es Batu Diadukan ke Poldasu

Selasa, 20 Juli 2021 | 21:16 WIB

 

Medan, MPOL : Pasangan suami istri ( Pasutri ) Wahab Ardianto dan Linda Law, pengusaha batu es warga Jalan KH Zainul Arifin Medan diadukan ke Polda Sumut karena diduga melakukan penipuan dan penggelapan jual beli tanah.

“Kita sudah laporkan pasutri itu sesuai Laporan Polisi No.STTLP/B/1160/VII/2021/SPKT/Poldasu dan kita berharap pengaduan itu segera ditindaklanjuti,” ujar Johansen Simanihuruk, SH MH didampingi Amrizal,SH,Jekson Hutasoit,SH dan Maya Sartika,SH selaku Kuasa Hukum So Huan sebagai saksi korban kepada wartawan, Selasa (20/7/2021).

Menurut Johansen, sebelum pengaduan tersebut dibuat di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu, saksi korban sudah dua kali mengirim somasi kepada pasutri yang terkenal sebagai pengusaha batu es itu di Tanjungbalai.Namun sampai kini pasutri itu tidak punya etikad baik menyerahkan tanah yang bakal dijualnya kepada saksi korban setelah menerima panjar Rp 50 juta.

“Kami masih berharap pasutri itu menyerahkan tanah yang dijanjikannya kepada saksi korban setelah menerima uang panjar,” ujar Johansen Simanihuruk.

Tapi, kalau pasutri itu tetap menolak, ancaman penipuan dan penggelapan pasal 372 dan 378 KUHP akan menjerat mereka.” Sebab ancaman pasal itu 5 tahun keatas dan bisa dilakukan penahanan,” ujarnya.

Dalam pengaduannya ke Poldasu, So Huan warga Jalan Kail Kecamatan Medan Labuhan menerangkan telah mengikat perjanjian/kesepakatan jual beli dua bidang tanah seluas 39.999 M2 terletak di Desa Asahan Mati Kecamatan Tanjungbalai Kabupaten Asahan.Sebidang tanah seluas 17.187 M2 sesuai Sertifikat Hak Milik No.74 dan Hak Milik No75 seluas 22.812 M2 keduanya atas nama Wahab Ardianto

Atas kesepakatan bersama yang dibuat Juni 2019 itu , Wahab Ardianto akan melepas kedua bidang tanah tersebut kepada saksi korban senilai Rp 1,250 miliar dengan rincian Hak Milik No 74 senilai Rp 530 juta dan Hak Milik No.75 senilai Rp 720 juta.Bahkan atas kesepakatan bersama, saksi korban telah menyerahkan uang panjar kepada Wahab Ardianto sebesar Rp 50 juta disetujui Linda Law dan disaksikan Kepala Desa Asahan Mati.

Bahkan, setelah penyerahan uang panjar tersebut, Wahab dan Linda Law mengizinkan saksi korban membuka jalan dan membersihkan lahan yang semula rawa-rawa.Untuk pengerasan lahan dan pembuatan jalan saksi korban telah menghabiskan dana sekitar Rp 428.530.000.

Ternyata dari kesepakatan tersebut, Wahab dan Linda hanya menyerahkan satu bidang tanah seluas 17
187 M2 sesuai Sertifikat Hak Milik No.74 setelah saksi korban menyerahkan uang Rp 530 juta.Sedangkan penyerahan Hak Milik No.75 sampai saat ini tidak diserahkan kepada saksi korban.

“Klien saya sudah berulangkali menemui pasutri itu minta penyerahan tanah Hak Milik No.75 agar dilunasi sesuai kesepakatan bersama.Tapi sudah 2 tahun lamanya pasutri itu terkesan menghindar untuk menyerahkan tanahnya dibeli saksi korban ” ujar Johansen Simanihuruk.

Menurut Simanihuruk, pasutri itu telah mengumbar janji untuk menjual tanahnya.Tapi setelah menerima panjar sebesar Rp 50 juta, pasutri itu malah menghindar.”Tindakan pasutri bisa dikwalifikasi penipuan dan penggelapan, sehingga saksi korban mengalami kerugian sekitar Rp 250 juta lebih,”ujar Simanihuruk.

Terlapor Linda Law saat dihubungi soal pengaduan So Huan itu tidak banyak berkomentar.” Tolong hubungi pengacara saya biar dia menjelaskannya,” ujar Linda melalui ponselnya.

Begitu juga tentang penerimaan panjar Rp 50 juta sebagai bukti menjual tanah, Linda Law enggan menjelaskannya panjang lebar.” Siapa yang bilang begitu saya nggak ada urusan.Tapi mau jelasnya, tanya sama pengacara saya,” ujar Linda Law.**