Diduga Ibu Tiri Kuasai Harta Warisan Diadukan ke Polres Sergai

Senin, 11 Oktober 2021 | 20:32 WIB
Serdang Bedagai,MPOL: Seorang ibu tiri dilaporkan ke Polres Serdang Bedagai oleh anaknya karena berupaya menguasai harta warisan peninggalan ayah mereka. Laporan dilakukan melalui Dumas oleh kuasa hukumnya dari kantor Hukum Jeremia Sembiring, SH & Rekan. Pengaduan tersebut diterima oleh Briptu Nanda, pada 6 Oktober 2021.
Dalam surat tertulis tersebut, Jeremia Sebastian Sembiring SH,  selaku kuasa hukum Satya dan Marlina, penduduk Dusun II Kelurahan Petumbukan Kecamatan Galang Kabupaten Delisedang melaporkan perbuatan dugaan klaim sepihak kepemilikan sebidang tanah (lahan perkebunan sawit) seluas lebih kurang 13 hektar di Desa Pama dan Pagar Manik, Kecamatan Silinda Kabupaten Sergai.
Sebidang tanah atau lahan perkebunan tersebut merupakan harta warisan sepeninggalan orang tua kliennya almarhum Keneng / Ng Kian Hin, diduga harta warisan dikuasai oleh istri kedua Alm Keneng semasa hidupnya bernama Saripah Sinaga, yang juga ibu tiri dari Satya dan Marlina.
“Alm Keneng semasa hidupnya pernah menikah dengan almarhumah Amoi dan memiliki 6 orang anak. Dan tercatat sebagai istri pertama dengan kutipan akte perkawinan nomor 117/1976. Mencuatnya persoalan harta warisan disebabkan kliennya mengetahui terjadinya perjanjian sewa menyewa lahan perkebunan sawit seluas lebih kurang 13 hektar,” kata Jeremia.
Jeremia membeberkan, bahwa kliennya Satya dan Marlina tidak mengetahui perjanjian sewa menyewa itu, sehingga mempertanyakan lahan yang diduga dikuasai oleh ibu tirinya.
Menurut Jeremia, tindakan ibu tiri tersebut diduga melakukan perbuatan hukum perjanjian sewa menyewa yang mengaku sebagai pemilik lahan. “Secara fakta, objek ataupun tanah tersebut milik Alm Keneng yang merupakan orang tua kandung dari Satya dan Marlina,” kata Jeremia kepada wartawan, Senin (11/10).
Sementara itu, Satya, anak ke enam almarhum Keneng, mengaku, sengketa harta warisan ini mencuat sejak sang ayah meninggal dunia tahun 2020. Semua harta sepeninggalan sang ayah diduga dikuasai oleh ibu tiri.
Disebutkan Satya, ayahnya menikahi Saripah Sinaga pada tahun 1998 semasa ibu Satya masih hidup. Diduga pernikahan halangan yang dilakukan ayah dan ibu tirinya. “Dan tahun 2001, ibu kami (almarhum Amoi) meninggal,” ungkapnya.
“Mulai dari deposito bank, beberapa unit rumah, tanah seluas 33 rante di Kelapa Satu Kecamatan Galang, tanah seluas 8 hektar di Sibaganding Bangun Purba, dan 13 hektar Pagar Manik Silinda. Seluruh berkas dan legalitas surat dikuasai oleh ibu tiri,” sebutnya.
Satya bersama kakaknya Marlina akan memperjuangkan hak-hak yang harus diterima setelah sepeninggalan almarhum ayahnya. “Cuma kami berdua yang memperjuangkan hak warisan ini. Sementara saudara lainnya berada di posisi ibu tiri,” ujarnya.
Satya menambahkan, sebelum masuk ke ranah pengaduan ke jalur hukum, pihaknya secara kekeluargaan telah berupaya membahasnya secara musyarawah keluarga. Namun, tidak mendapatkan respon dari pihak ibu tiri.
Dan bahkan, kata Satya, sempat terjadi perdebatan argumen hingga berakhir ke pihak berwajib karena tidak menemukan jalan keluar. “Sempat terjadi saling lapor ke polisi atas tindakan perkelahian,” sebutnya.
Satya kini menggantungkan hidupnya bersama keluarga dari hasil perkebunan sawit yang dikelola seluas lebih kurang 13 hektar di Desa Pama dan Pagar Manik.
 “Itupun saya dituduh mencuri oleh ibu tiri. Padahal, perkebunan sawit ini milik almarhum bapak saya. Dan bahkan, saya diancam akan dipenjarakan jika tetap mengelola sawit ini,” bebernya.
Jeremia kembali mengimbau kepada seluruh pihak manapun, untuk tidak menginterpensi kliennya dari segi aspek hukum.
“Kita akan membawa kasus harta warisan ini ke jalur hukum jika tidak menemukan titik jalan musyawarah. Kita juga berharap, pengaduan masyarakat yang dilayangkan ke Polres Sergai dapat ditindaklanjuti dengan memediasi keluarga almarhum Keneng, agar tidak terjadi konflik keluarga yang berkepanjangan,” pungkasnya. ***