Buntut Penanganan Kasus Penganiayaan, Tim Paminal Polres Simalungun Turun ke Polsek Dolok Pardamean

Senin, 26 Oktober 2020 | 19:58 WIB

Simalungun, MPOL : Buntut dari pengungkapan kasus penganiayaan yang ditangani penyidik Polsek Dolok Pardamean diduga tidak profesional, Tim Paminal Propam Polres Simalungun turun ke Polsek tersebut.

“Ya, hari ini anggota saya tim pengamanan internal (Paminal) Propam Polres sudah datang ke Polsek Dolok Pardamean untuk melakukan penyelidikan dalam penanganan kasus tersebut,” kata Kasi Propam Polres Simalungun, Iptu Alwan kepada Medan Pos, di ruang kerjanya, Senin (26/10/2020).

Menurut Alwan, kasus yang dilaporkan oleh pendamping hukum dalam kasus penganiayaan terhadap Tuppak Sahala Parulian Malau tersebut sudah ditindaklanjuti. Namun, Tim Paminal yang turun masih melakukan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) terhadap penyidik Polsek Dolok Pardamean.

Disebutkannya, masalah ini, pihaknya tidak dapat mengintervensi penyidik Polsek. Karena terkait dengan ditahannya Tuppak Sahala Malau itu kewenangan oleh penyidik Polsek Dolol Pardamean.

Pihaknya tidak bisa mengintervensi kasus tesebut, itu kewenangan tim penyidiknya dalam menangani kasus penganiayaan yang melibatkan antara terlapor Tuppak Sahala dengan pelapor E boru Malau.

Ditegaskannya, kalau ada keberatan atau protes dengan penahanan tehadap tersangka Tuppak Sahala Parulian Malau oleh pihak Polsek Dolok Pardamean ajukan gugatan Pra Peradilan ke Pengadilan.

Meskipun demikian, sambungnya, pihaknya tetap melakukan pengusutan dalam penanganan kasus tersebut.

“Kalau ada ditemukan dan tim penyidik menyalahi prosedur dalam pemeriksaan terhadap kasus penganiayaan tersebut, akan kita lakukan pemeriksaan internal terhadap tim penyidiknya,” ucapnya.

Sementara, Holniada Saragih pendamping hukum tersangka Tuppak Sahala Parulian Malau sangat keberatan kliennya dikenakan pasal 351 (1) KUHP dan ditahan penyidik Polsek Dolok Pardamean Resor Simalungun.

“Sementara, laporan klien kami atas nama Tuppak Sahala Parulian Malau sampai saat ini belum ada kejelasan proses hukumnya dan diinilai tak mencerminkan keadilan,” ujat Holniada.

Dirinya menyatakan protes dan keberatan kepada Kapolsek Dolok Pardamean selaku penyidik Laporan Polisi Nomor : LP/11/X/2020 Reskrim Tanggal 02 Oktober 2020 di Sipintuangin dimana saat ini belum mendapat penjelasan apa hang menjadi alat bukti yang terpenuhi sehingga klien kami ditetapkan sebagai tersangka penganiayan dengan pasal 351 ayat (1) KUHP.

Kemudian, terlepas dari ada atau tidaknya luka atau memar pada diri pelapor (E boru Malau), jika ada, terlepas dari apakah itu akibat perbuatan dari klien kami/tersangka atau bukan, namun pada kenyataannya pelapor tidak ada terlihat terganggu kesehatannya dan terganggu bekerja maka kalau pun ada memar yang benar-benar diyakini sebagai akibat perbuatan tersangka hal itu hanya dimungkinkan untuk pasal 352 KUHPidana.

Jika betul ada memar pada diri pelapor dimohon supaya dipastikan apakah itu diakibatkan perbuatan tersangka atau disebabkan dari benturan karena pelapor menjatuhkan dirinya kepada tersangka lalu terjatuh menindih tersangka.

Disamping itu, dimohon supaya penyidik memastikan kebenaran saksi Lusiana Malau sejauh mana informasi yang kami peroleh pada saat peristiwa yang sekejab itu yang bersangkutan tidak berada di TKP.

“Kami juga keberatan atas sikap pihak Polsek yang mana dalam peristiwa tersebut klien kami yang lebih dulu melapor, namun sejauh ini belum ada perkembangam yang berarti,” ujarnya

Dirinya juga berharap penyidik tidak mengabaikan barang bukti yang diajukan, karena kliennya, akibat peristiwa gara-gara sengketa tanah di samping rumah tersangka di Sipintuangin Nagori Pariksabungan, Kecamatan Dolok Pardamean, Simalungun itu sakit pada bagian kelaminnya.

“Saya mewakili atas nama Konsultan Hukum Advokat Kurpan Sinaga SH dan Rekan meminta polisi bersikap adil dan profesional dalam menangani kasus penganiayaan yang terjadi di wilayah hukum Polsek Dolok Pardamean Resor Simalungun,” pungkas Holniada Saragih. *