Bongkar Kasus Lama, Nyali Ramli Lubis Mendidih..!!

Kamis, 18 Agustus 2022 | 00:09 WIB

Medan, MPOL: Mengambil momentum hari kemerdekaan, Ramli Lubis turun ke Medan dengan nyali mendidih. Dari Jakarta, Wakil Wali Kota Medan era Abdillah itu ‘pulang kampung’ sambil menabuh genderang perang terhadap kasus lama yang membuatnya kehilangan aset senilai ratusan miliar rupiah.

Kepastian soal itu dilontar Ramli Lubis pada Medan Pos yang menemuinya di sebuah lokasi di Medan, Rabu (17/8/2022). “Kasus itu sekarang saya dengar berhubungan dengan Bank Syariah Mandiri sekarang bernama Bank Syariah Indonesia (BSI),” ujar Ramli. “Perkebunan sawit saya di Mandailing Natal seluas 7500 hektar saya dengar mau dilelang oleh BSI,” sambungnya.

Kisah yang kembali dibeber Ramli diketahui menjadi kasus panas di Medan, satu dekade lalu. Persisnya terjadi di era Kapolda Sumut dijabat lrjen (Pol) Wisjnu Amat Sastro. Kasus teregistrasi bernomor LP 522 VI 2012 itu awalnya ditangani Bareskrim. Sebelum dilimpahkan ke Polda Sumut, Ramli memang melaporkan kasus akta palsu peralihan saham PT Rizkina Mandiri Perdana (RMP) itu di Mabes Polri, Juli 2012. Berlokasi di Desa Kunkun dan Sundutan Tigo, Kecamatan Natal, Mandailing Natal (Madina), PT RMP yang bergerak di bidang perkebunan diketahui milik Ramli.

Sebelum akhirnya kini menyeret dugaan keterlibatan Bank BSI, kasus itu juga melibatkan IIB, tokoh di Sumut, juga 2 pengusaha dan seorang notaris, masin-masing MB, SL, dan IL. Pun dilapor ke Mabes Polri lalu dilimpahkan ke Polda Sumut dan 4 tokoh itu kemudian berstatus tersangka, kasus ini tak kunjung selesai. “Hanya 1 yang dijadikan tersangka dan dibawa ke pengadilan, tapi 3 yang lain dibiarkan,” jelas Ramli, terdengar geram.
Sosok semata wayang yang dibawa ke meja hijau itu adalah SL. Mantan orang kepercayaan Ramli itu ditahan. SL ditetapkan sebagai tersangka perkara dugaan tindakkan pindana memberikan keterangan palsu dalam akta otentik. Dijerat Pasal 226 KUHPidana, dia diperiksa penyidik Subdit II/Harta Benda Tanah dan Bangunan (Harda Tahbang) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumut. Beda dengan SL yang ditahan dan disidang di Pengadilan Negeri (PN) Medan, berkas 3 tersangka lain malah dilaporkan tak ditindaklanjuti pihak Polda Sumut. Ramli bercerita.

Kasus bermula saat 4 tersangka itu (IIB, MB, SL, IL) mengalihkan kepemilikan saham perkebunan sawit PT RMP milik Ramli Lubis menjadi milik mereka. Pengalihan saham dilakukan dengan mengedarkan berkas Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) untuk ditandatangani para pemegang saham tanpa diberi kesempatan untuk membaca isi RUPS-LB tersebut.

Lalu di mana keterlibatan Bank BSI? Keterlibatan bank hasil merger Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, dan BRIsyariah, itu terjadi saat SL, yang berstatus Direktur PT RMP, melakukan pinjamanan kredit investasi kepada Bank Syariah Mandiri.
Kini, 10 tahun paska kasus itu berlalu dan menyisakan sejumlah kejanggalan proses hukum, Ramli mendengar lahan perkebunan di Madina itu segera dilelang pihak BSI.

“Status alas hak lahan itu adalah HGU Nomor 06, 07, 08, dan 09. Itu yang lahan seluas 3400 hektar. Status alas hak SHM atas nama saya, Drs H Ramli Lubis, MM, dengan keluarga saya 5 orang. Dan sisanya nama keluarga lain di sekitarnya dengan luas sekira 362 hektar. Lalu status alas Hak Surat Keterangan Kepala Desa dan Camat seluas 3800 hektar. Total luas semuanya 7500 hektar,” beber Ramli soal alas hukum kepemilikan tanahnya itu, tertuang dalam sebuah keterangan tertulis.

Keterangan soal itu diketahui ditembuskan ke sejumlah instansi atau tokoh penting di Sumut. Mulai Kanwil BPN (Badan Pertahanan Nasional) Sumut, BPN Kabupaten Madina, Kapolda Sumut, Balai Lelang Negara Direktorat Jenderal Kekayaan Negara di Medan, Bupati Madina, Kapolres Madina, Camat Kecamatan Natal, hingga Kepala Desa Kunkun dan Kepala Desa Sundutan Tigo.

“Jadi untuk menghindarkan kerugian atau masalah hukum di kemudian hari., saya minta agar sejumlah peminat yang sekarang saya dengar mengikuti proses lelang tanah itu di Bank BSI, saya minta berhati-hati. Saya ingin kita duduk segitiga transparan, yakni pihak saya, pihak MB dan IIK, dan para calon pembeli tanah itu,” tandas Ramli. Soal kasus lama yang kembali dipanaskan ini, hingga Rabu (17/8) belum ada keterangan resmi dari pihak BSI. (**)