Pengadilan Japinantun dan Jamangune

Sabtu, 29 Mei 2021 | 22:24 WIB

Japinantun dan Jamangune sebenarnya sejak masih belia sudah berteman akrab. Main kelereng di bawah bagas godang dan melompat-lompat di sungai kecil sebelah surau kecil di kampungnya, menjadi kebiasaan dua sahabat ini.

Kedua pria berperawakan sedang ini sebenarnya masih terikat hubungan famili. Ompungnya si Pinan dan si Mangun masih seayah, meski lain ibu.
Kalau istilah orang Mandailing, keduanya masih se marga, kahanggi. Makanya kalau ada horja (hajatan) di kampung Simangambat, sebuah desa di kecamatan Siabu, Mandailing Natal, keluarga Japinantun dan Jamangune pasti terkumpul disana.

Tapi sejak pembagian warisan kobun karet yang terasa kurang memuaskan, Japinantun dan Jamangune mulai bertengkar, perang dingin dan saling sindir kerap terjadi. Seperti anak-anak saja, padahal usia mereka sudah pada mendekati 50 tahun.
Suatu kali, sepulang dari sawah, Japinantun sudah sangat lapar. Istrinya si Longgampun dipaksa membakar pete dan menggiling lasiak lamot, cabe rawit yang ditanam di halaman rumahnya.

Setengah jam, hidangan petai bakar dan lasiak lamot dengan sedikit rebusan daun ranti sudah dihidangkan. Longgam mendampingi suaminya dengan setia.
Japinantun pun mulai melahap hidangan kesukaannya itu dengan suka cita, luar biasa sampai sisa-sisa nasi pun menempel di kumis tebalnya. Jambangnya juga tampak basah dengan keringat, sangkin semangatnya makan di siang bolong itu.

Tapi kenikmatan makan Japinantun tiba-tiba saja terusik. Dari atap rumahnya terdengar seperti ada orang yang sedang berjalan. Praktis kotoran-kotoran dari atap rumbia itupun berjatuhan ke hidangan Japinantun.

“Hei, ise do homu di ginjangan,” teriak Pinan dengan maksud meminta orang yang berada diatas atap itu segera turun. “Inda langa diboto ho na mangan do halak di bagason,”tambahnya mengingatkan bahwa di rumah sedang ada orang yang sedang makan.

Tapi tetap saja, suara berisik dari atap rumah itu tak berhenti. Pinan keluar rumah lalu melirik ke atas. Ternyata, Jamangune sedang memperbaiki atap rumahnya yang bocor. Kebetulan, rumah kedua sahabat inipun berdempetan.

Jamangune tampaknya tidak senang dengan teguran itu. Ia pun mencoba menghardik sahabatnya itu. “Ahhh, na beteng ma illala ho, satongkin do iba baya manaek tu atap taruma on, ma mangamuk maho,”jawab Jamangune bernada marah dan mengatakan Japinantun sok hebat melarangnya membetulkan atap rumahnya.

“Bukan do baen na beteng hulala(sok hebat), nai ligi ho na mangan do halak di bagas on. Turunko siani, paipas,”sergah Japinantun keras, meminta Jamangune segera turun.

“Inda ra au bia langa (gak mau aku kenapa ruupanya),” jawabnya.
“Bo, hutaba maho on,” ancam Japinantun. “Taba ma (bacok),” tantang Jamangune.

Sejurus, Japinantun sudah memperlihatkan parangnya, seraya berteriak agar Jamangune segera turun.

Tak ayal, kedua sahabat itu pun bergelut. Jamangune menahan sabetan parang Japinantun dengan batang kopi yang sudah dibawanya sejak tadi untuk mengganti kayu sanggahan atap nipah rumahnya.

Tak ada yang terluka, tetapi wajah keduanya memerah karena bogem mentah. Rupanya, parang dan batang kopi hanya gertakan aja, karena pada hakikatnya kedua sahabat ini tak punya nyali untuk membunuh lawan tengkarnya.

Perkelahian satu lawan satu itu akhirnya terhenti juga, setelah keduanya keletihan. Nafas ngos-ngosan. Meski, pertengkaran mulut masih berlangsung hingga malam hari, Japinantun mengejek Jamangune dari jendela rumahnya, begitupun sebaliknya.
Orang-orang di kampung itu tak perduli. Karena orang tahu, tak ada yang bisa dibela dari keduanya. Karena sebentar lagi, mereka pasti sudah berteman lagi, main catur di lopo si Lokot. Ah…membosankan sebenarnya sikap kedua laki-laki ini. Istri mereka pun tak peduli, nanti pertengkaran mereka berhenti juga kalau sudah letih.

Betul saja, habis salat Jum’at besoknya, Japinantun dan Jamangune sudah terlihat bersama di sopo-sopo pinggir jalan menuju sawah. Keduanya terpingkal-pingkal hebat, entah apa cerita mereka sampai begitu senangnya hari itu.

Japinantun memang sedikit berbeda dari umumnya orang di kampung itu, banyak kombur, entah apa saja bahan ceritanya bisa membuat orang tertawa. Seperti hari itu, dia menanyakan orang orang di lopo itu, aha ma dua parsapaan jawabna sada, apalah dua pertanyaan tapi jawabnya hanya satu.
Tak seorang pun berhasil menebak teka-teki itu. Tapi setelah Japinantun yang jago pantun menjelaskan jawabannya semua orang di lopo itu tertawa lepas. Jawabnya, dua pertanyaan dimaksud adalah, ada dua orang pria menanya pada seorang anak, didia ayahmu (dimana ayahmu) dan aha gulemu di bagas (apa gulai kalian di rumah). Jawabnya “Ikan Tori.

Begitulah adabnya di kampung Simangambat pada zaman itu, zaman dimana penjajah Belanda masih menguasai segala hajat dan hidup masyarakat.
Entah apa pula masalahnya, keesokan harinya, Japinantun dan Jamangune berkelahi lagi di kebun kopi mereka yang bersebelahan. Entah siapa pula yang menebang pohon kelapa yang menjadi batas kebun mereka selama ini. Entah siapa yang sengaja atau iseng membuat kedua sahabat dan famili ini kembali berseteru.

Tinju Jamangune mendarat tepat di hidung Japinantun. Begitu sebaliknya, pelipis kanan Jamangune berdarah.
Tidak senang dengan peristiwa itu, Japinantun pun memperkarakan temannya itu ke Landraad atau setingkat Pengadilan Negeri di zaman itu. Tidak sampai menunggu lama, keduanya pun dipanggil ke pengadilan yang berada di ibukota Tapanuli Selatan.

“Hakim pun mulai menyidangkan perkara perkelahian itu. Hakim terlebih dahulu bertanya kepada Japinantun, kronologis perkelahian itu. Begini pak Hakim, kata Japinantun dengan logal Mandailing yang kental. Masaklah katanya ompungku kawin dua kali, padahal ompungku itu kan masih adik ompungnya. Kan kejam kali lah dia itu Pak Hakim.

Dan, kau Jamangune, mengapa kau pukul dia. Jamangune pun menjawab dengan lantang. Masak Pak Hakim dibilangnya aku bodad losung, ya kupukullah dia,”.
Dia pun dibilangnya aku “Lampak”, bagaimana pula itu pak Hakim,” timpal Jamangune lagi.
Baiklah, kata Pak Hakim. Kau, Japinantun, bayar denda 50 sen. Kau Jamangune bayar denda 50 sen juga. Besok, kalian ulangi lagi ya,” cetus Pak Hakim seraya mengetuk palu mengakhir sidang yang dinilai tak penting itu.

Kedua sahabat berseteru itupun pulang ke rumah masing-masing, dengan ongkos bus masing-masing. Hati mereka puas, perkaranya sampai ke pengadilan dengan mendapatkan hakim yang sungguh luar biasa dan bijaksana.

Meskipun harus mengorbankan sejumlah uang. Mereka juga bersungut-sungut senang mendapati keadilan yang luar biasa di pengadilan, karena nasehat pak Hakim yang cukup luar biasa kepada mereka sangat membekas di hati keduanya.

Memang benar kata Pak Hakim, semua pertengkaran yang terjadi diantara kita, itu karena kita yang berseteru sama sama mau, tak ada yang mengalah. Kalau ada yang mengalah, kan kita tidak perlu jauh-jauh ke pengadilan ini dan menghabiskan uang,” cetus Japinantun mendapat pelajaran dari perseteruannya dengan Jamangune.

Tetapi, pelajaran berharga itu tampaknya belum dapat menjadi akhir dari pertengkaran Japinantun dan Jamangune. Mereka tampak happi happi saja kemarin di kedai si Lokot, masih bertengkar juga. (Barpul)