September, Detak Nadi Ekonomi Sumut Melemah

Senin, 21 September 2020 | 17:12 WIB
Medan, MPOL : Kuartal ketiga sebentar lagi akan berakhir. Lebih kurang 1 minggu ke depan kita akan menutup kuartal ketiga ini sebagai tolak ukur untuk menghitung apakah kita akan masuk ke jurang resesi atau tidak.
Meskipun sudah dipastikan kita akan masuk jurang resesi, akan tetapi seberapa buruk kita nantinya akan mampu keluar dari tekanan resesi tersebut.
“Dari hasil kajian saya dil apangan, di bulan September ini denyut nadi perekonomian Sumut kembali melemah,” ujar pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin, kepada wartawan Senin (21/9/2020).
Disebarkannya, Medan yang menjadi episentrum penggerak ekonomi di Sumut, perlahan kemampuan motor penggerak ekonominya berputar lebih lambat dibandingkan pasca ekonomi dibuka saat new normal diberlakukan.
Beberapa temuan dosen Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU)  ini menunjukan bahwa aktifitas di beberapa sektor jasa saat ini semakin mengecil dibandingkan sesaat setelah kebijakan pelonggaran PSBB di bulan Maret lalu.
“Layanan jasa transportasi ataupun jasa pengangkutan barang saat ini terus mengalami penurunan, meskipun masih tetap lebih baik dibandingkan dengan masa pemberlakukan PSBB sebelumnya, tetapi aktifitas menurun tajam di bulan ini,” katanya.
Beberapa responden seperti tukang angkut barang, jasa antar barang dan penumpang, hingga tukang becak mengeluhkan turunnya penggunaan jasa mereka.
Sementara itu, jasa dari tukang bangunan juga mengalami penurunan tajam dalam dua bulan terakhir. Bahkan 1 dari 3 tukang bangunan ataupun buruh bangunan harus kehilangan pekerjaannya.
“Dan sisanya, meskipun masih tetap mendapatkan pekerjaan, tetapi frekuensi pekerjaannya mengalami penurunan. Artinya tukang dan buruh bangunan mengeluh karena orderan tidak selalu ada setiap bulannya,” tambah Benyamin.
Dari aktifitas di pasar tradisional, pedagang mengeluhkan turunnya belanja masyarakat belakangan ini. Bahkan tidak sedikit yang harus tutup, sementara akibat banyaknya piutang yang tak tertagih. Banyak pedagang besar mengeluhkan buruknya daya beli masyarakat, yang membuat pedagang pengecer tidak mampu memenuhi kewajibannya.
Di sisi lain, harga pangan yang cenderung turun juga membebani para petani kita. Dimana petani mengalami kerugian karena harga jual sering tidak mampu mengcover biaya pokok saat penanaman hingga panen.
Sementara itu, pedagang kuliner, café, kantin maupun sejumlah pengusaha dalam lini bisnis hotel, restoran dan pariwisata juga belum menunjukan aktifitas usaha yang normal. Termasuk perdagangan hingga kontstruksi.
“Aktifitas ekonomi yang sudah terlalu banyak “diam” atau bahkan mati suri mengakibatkan pendapatan masyarakat kian tergerus,” tuturnya.
Semakin ke belakang, daya beli masyarakat kian terpuruk. Motor penggerak ekonomi masih didominasi oleh BANSOS, dan beberapa penggerak ekonomi seperti industri pertanian maupun pengolahan kelapa sawit. Dan SUMUT masih beruntung harga CPO mampu naik di kisaran 3000 ringgit per ton.
Di bulan September ini, hasil perhitungan sementara saya masih pada kesimpulan bahwa Sumut akan merealisasikan pertumbuhan negatif beruntun dalam dua kuartal atau resesi.
Untuk itu yang utama, Sumut harus bisa memastikan bahwa BANSOS berjalan tanpa ada penyelewengan. Karena disitulah benteng terakhir untuk menjaga daya beli sekaligus menjaga masyarakat untuk mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. **