Petani di Simalungun Menjerit Harga Pupuk  Subsidi Melambung

Rabu, 3 Agustus 2022 | 23:22 WIB

Simalungun,MPOL: Ribuan masyarakat Petani dikabupaten Simalungun menjerit akibat harga pupuk subsidi melambung tinggi dari harga yang telah ditentukan Pemerintah  Harga eceran tertinggi (HET)

Jenis pupuk urea bersubsidi sesuai Harga eceran tertinggi (HET) Rp 112 ribu ternyata di jual pengecer kepada petani Rp 145 ribu pupuk NPK jenis Phonska harga HET Rp 117 ribu dijual pengecer kepada petani Rp 165 ribu . Beberapa petani di Simalungun mengungkapkan walau harganya jauh dari harga yang telah ditentukan pemerintah mau tidak mau harus membeli sesuai kebutuhan hidup yang sangat menjengkelkan pupuk Subsidi tidak ada hilang dari pasaran.
Lebih lanjut salah seorang petani kecamatan Siantar mengatakan persoalan pupuk di daerahnya sudah lama menjadi bahan perbincangan dikalangan petani namun sampai sejauh ini tidak ada perhatian dari pihak Pemerintah kabupaten Simalungun.Demian juga halnya di kecamatan Pane saat ini sedang pengolahan lahan perwahan untuk bertanam padi tapi sulit untuk memperoleh pupuk.
Dengan mahalnya harga pupuk subsidi dan sulitnya memperoleh bagaimana rakyat Kabupaten Simalungun bisa sejahtra sesuai dengan Visi dan Misi bupati Simalungun Tadiapoh Hasiholan Sinaga dan Wakil Bupati Zony Waldi rakyat Simalungun akan Sejahtera.
Sesuai pengakuan salah satu pengecer pupuk di Nagori Simpang Pane kecamatan Pane boru Saragih dihadapan kepala dinas pertanian Ruslan Sitepu,kabid Mudianto dan PPL serta beberapa stafnya saat monitoring mengatakan,para pengecer pupuk menjual kepada petani tidak  sesuai dari harga yang telah ditentukan pemerintah (HET) Karna dari distributor  pupuk jenis Urea sudah di  tidak sesuai harga yang telah ditentukan pemerintah melainkan sudah naik Rp 5000/ zak  dari Rp 12 ribu menjadi Rp 17 ribu Lain lagi untuk petugas pertanian kordinator dan PPL Rp 1.000.000.
Saat monitoring dan pertemuan tersebut Kadis pertanian sitepu  bersama kepala bidang dan PPL tidak bisa mengelak sitepu mengatakan tidak boleh petugas dari dinaas meminta apapun dari pengecer pupuk.**