Nenek Ini Tetap Bersyukur Walau Hasil Jualan Pecal & Mie Gomaknya Menurun

Minggu, 10 Mei 2020 | 20:18 WIB
Taput MPOL.Com: Salut melihat perjuangan nenek penjual pecal dan mie gomak yang selalu bersyukur dan mensyukuri dalam kesulitan apapun yang dialaminya.
Keriput kulit diwajahnya seakan tidak mengenal lelah di saat menyajikan sepiring pecal dan mie gomak bagi pelanggannya. Nenek yang ditinggal suami tercintanya (marga Hutabarat) setelah anak semata wayang mereka  berusia lima tahun selalu ceria dan pasrah kepada alam.
Jual pecal dan mie gomak menjadi andalannya sejak puluhan tahun silam, membuat nenek berusia 65 tahun ini trend dipanggil “Perpoccal” (penjual pecal).
Warga Dusun II Parpangiran Desa Hutaraja Kecamatan Sipoholon Taput ini mengaku, dengan sebutan “Perpoccal” menjadi panggilan sehari-hari bagi sebayanya. “Yaaa,  itulah saya di panggil “Parpoccal”, mungkin karena saya penjual pecal,” senyum nenek Boru Batubara itu saat diajak MPOL.Com berbincang-bincang sambil menikmati mie gomaknya, Minggu (10/5).
Dengan nada sedikit lemah tiba-tiba, ia menyuarakan sepenggal kalimat yang membuat penulis terkejut. “Dang Lakku Be Poncalhon Amang Alani Corona On – Tidak Laris Lagi Jualan Pecal Saya Ini Gegara Corona”.
“Padahal dari menjual pecal dan mie gomak ini untuk membeli ikan dan beras dan kebutuhan hidup lainnya. Karena kami juga tidak punya ladang,” kata nenek yang telah memiliki lima cucu itu.
Duduk sambil meneguk segela air putih,  nenek lanjut berkata, padahal saya berjualan sekali seminggu. Pukul 1 dini hari saya sudah bangun untuk memasak sambil mengiris sayur-mayur untuk pecal, lalu memasak kuah mie gomak.
“Sejak adanya wabah Virus Corona, hasil penjualan saya drastis menurun. Namanya juga alam ya amang. Yang penting kita sehat dan selalu bersyukur kepada Tuhan,” ucap si nenek penuh rasa keyakinan.
Inilah amang pecal saya belum ada yang beli (sambil menunjukkan sayur-mayur pecalnya). Dengan keadaan seperti ini, modal aja pasti gak bisa kembali.
Sambil melahap mie gomak nenek itu, wartawan bertanya, berapa satu porsi harga pecal dan mie gomak nenek. “Kalau mie gomak satu porsinya Rp.5 ribu, kalau pecal Rp.6 ribu,” kata nenek itu menjawab.
Biasanya sebelum ada wabah Corona, nenek menjual berapa kilo mie gomak dan berapa banyak pecal yang mau dijual setiap hari minggunya..? “Biasanya 2 kilo untuk 15 porsi, kalau pecal untuk 10 porsi. Kalau habis semua dengan penjualan Rp. 100 ribu, untung saya Rp. 50 ribu. Tidak banyak amang untungnya,” tegasnya.
Saat Pandemi Corona lanjut nenek itu, saya masak mie gomak hanya 1 kilo untuk 7 hingga 8 porsi. Kalau pecal untuk 5 porsi, itupun gak habis. “Pelanggan saya takut keluar rumah karena si Corona. Mungkin saja warga tidak punya uang lagi. Mungkin bukan cuma saya yang merasakan dampak Corona ini. Kita memaklumi itu ya amang. Kita tetap bersyukur ya amang, ” ungkap nenek itu bijaksana.
Tak Pernah Dapat Bantuan
Oppung Rosalina itu juga bercerita dampak Covid -19 belum pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah. “Jangankan gara-gara Covid-19, bantuan apapun gak pernah saya dapat. Mungkin pemerintah berpikir saya mampu karena berjualan,” ucapnya dengan rendah hati.
Berarti masih banyak yang lebih miskin dari saya di desa kami ini. Sebenarnya saya layak dapat bantuan dari pemerintah. “Tapi saya masih sanggup, tetap berdoa Covid-19 ini cepat berlalu. Dengan hilangnya wabah ini, jualan pecal dan mie gomak saya bisa laris lagi,” imbuhnya sambil melangkahkan kakinya untuk membungkus permintaan pelanggan. *