Uniknya Irjen Panca ; Kerja Diam-diam, Prestasi Segudang

Rabu, 22 Juni 2022 | 16:11 WIB

 

Catatan: ZULKIFLI TANJUNG,
Jurnalis di Medan

Tak banyak dialog yang bisa saya bangun bersama Irjen Panca. Itu karena kesibukannya yang luar biasa. Bagi saya, sekali lagi bagi saya, perwira tinggi Polri yang telah 15 bulan menjabat Kapolda Sumut ini sungguh bukan Kapolda biasa. Kerjanya luar biasa.

Nyaris tak ada waktu jeda. Rasanya tak ada istilah tanggal merah bagi putra terbaik Sumut ini. Seperti Minggu (12/06/2022) dini hari lalu, Irjen Panca kembali bikin gebrakan. Dia memimpin operasi penggerebekan terhadap dua markas besar judi di Medan.

Dalam catatan saya, tak satu pun kasus menonjol di Sumut yang tak terungkap selama Irjen Panca menjabat Kapolda. Tak hanya kasus yang viral dan geger seperti pembunuhan wartawan di Siantar dan penganiayaan jurnalis di Mandailing Natal (Madina).

Kasus yang senyap pun dibuatnya terang benderang. Dua contoh soal itu adalah kasus penjualan vaksin dan rapid antigen. Semua diungkap tuntas tanpa ada kesan yang disembunyikan. Bagi saya, Irjen Panca benar-benar bikin kita bangga akan cara kerja dan kinerja sosok polisi.

Itulah yang membuatnya diam-diam punya segudang prestasi. Disebut diam-diam karena gerakannya sulit ditebak. Dalam sehari, bisa dua tiga Polres disambanginya untuk memberi semangat pasukan dalam memberi rasa aman pada warga.

Lain tempo, diam-diam pula beliau dikabarkan sudah melesat ke Labuhanbatu. Itu karena polisi wilayah itu berhasil mengungkap kejahatan. Dia memang sosok polisi dengan kinerja sangat membanggakan.

Setahun lebih bertugas di Sumut, banyak sudah yang dilakukan Irjen Panca. Aksinya bahkan seperti membalikkan teori umum. Selama ini, begitu menjabat, para Kapolda selalu sowan ke wilayah jajarannya. Tapi Irjen Panca tidak. Sowan dilakukan belakangan. Prestasi yang utama dikejar.

Banyak contoh yang sudah dilakukan Irjen Panca. Dan semua memberi tanda : tak ada kepentingan, murni kerja penegakan hukum. Penangkapan mantan Bupati Langkat Terbit Rencana Perangin-angin salah satunya.

Sebagai pengendali wilayah, Irjen Panca membekap aksi KPK saat menciduk sang bupati. Itu bukti mantan penyidik KPK ini tak punya kepentingan terhadap para kepala daerah di Sumut.

Bukti integritas juga dapat dilihat dari tak terlihatnya aksi cukong wara-wiri ke ruangannya. Jangankan kantor, rumah dinasnya pun kerap terlihat ‘sepi’.

Di internal jajarannya, bukti soal itu bahkan terang benderang. Para Kapolres yang coba-coba memberinya upeti atau sekadar melayani, kontan didamprat. Jangan bayangkan dapat ‘hadiah’, sekadar kamar hotel pun Irjen Panca tak ingin dibayari.

“Pernah seorang Kapolres didamprat karena membayar hotel tempat beliau menginap,” ujar seorang teman yang juga mengikuti perjalanan karier Irjen Panca di tanah kelahirannya ini.

Bagi saya Irjen Panca memang bukan Kapolda biasa. Dan di tengah malam pertengahan Juni 2022, bukti integritas diri kembali ditunjukkannya. Saat banyak warga Kota Medan tertidur lelap,  dia –bersama Waka Polda Sumut Brigjen Dadang dan Kapolrestabes Medan Kombes Pol Valentino– memimpin penggrebekan lokasi besar judi di Komplek Asia Mega Mas dan MMTC.

Meski kerja dan kinerjanya dinilai luar biasa, Irjen Panca merasa biasa saja. Tak ingin disanjung. Dia bahkan menjauh dari orang yang ingin melakukan itu.  Baginya hanya prestasi dan prestasi. Dia bak pepatah ‘dipuji tak terbang dipuji, dicaci tak tumbang’.

Meski atas nama stabilitas tak semua masalah serta merta bisa diberantas, tapi dari jenderal lama malang melintang di dunia reserse inilah saya banyak belajar arti integritas.

Bagi saya, Panca memang jenderal inspirator. Dia tercatat sebagai satu di antara tak sampai 10 putra Batak yang pernah menjabat Kapolda di republik ini. Bintang kariernya sebagai Kapolda sebaris dengan kiprah Irjen Tornagogo Sihombing, Irjen Nico Afinta Karo-Karo, Irjen (Purn) Ricky Herbert Parulian Sitohang, Irjen (Purn) Hotman Siagian, Irjen Martuani Sormin, dan Irjen (Purn) Wilmar Marpaung.

Nama terakhir yang wafat di ujung tahun 2020 itu bahkan pernah didapuk sebagai Kapolda terbaik se-Tanah Air. Itu terjadi pada 2016. Persisnya saat Wilmar Marpaung menjabat Kapolda Sulawesi Utara. Selama 1 tahun 9 bulan mengamankan Sulawesi Utara, jenderal tutup usia 60 tahun itu berhasil menekan laju angka kriminalitas di propinsi itu.

Penilaian itu tercipta lewat program kerjanya memberangus praktik premanisme dan kejahatan jalanan.

Meski beda karakter wilayah, gebrakan Wilmar Marpaung di Sulawesi Utara sebenarnya juga telah ditoreh Panca di propinsi ini. Terhitung setahun menjabat Kapolda Sumatera Utara sejak Maret 2021, angka kriminalitas di 33 kabupaten/kota propinsi ini berhasil diturunkan Irjen Panca.

Turun dibanding tingkat kejahatan yang terjadi sepanjang tahun 2020. Rinciannya, dari total 37051 aksi tindak pidana yang terjadi pada 2020 turun menjadi 33.392 kasus di 2021.

Fakta itu bahkan seiring dengan hasil riset Etos Institute, sebuah lembaga survei yang awal tahun ini menggelar penelitian soal penilaian masyarakat terhadap kinerja Polri.

Hasil survei nasional itu menempatkan
Polda Sumut pada rating tertinggi untuk hampir seluruh penilaian aspek kinerja. Penilaian meliputi soal tingkat penanganan kriminalitas, pelayanan publik, pembenahan SDM, keamanan wilayah dan maksimalisasi penggunaan fasilitas dan teknologi.

Di bawah kendali Irjen Panca, Polda Sumut menempati posisi di atas kinerja Kepolisian Daerah Metro Jaya dan Kepolisian Daerah Jawa Timur.

Hasil survei yang mengangkat marwah Polda Sumut itu kemudian membuat Irjen Panca kebanjiran penghargaan. Award datang silih berganti. Setelah Komisi Hukum DPR RI memberi award, penghargaan untuk Irjen Panca juga datang dari Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Provinsi Sumut.

Publik berharap semua prestasi itu bisa makin digenjot hingga mengantarkan Irjen Panca menjadi Kapolda terbaik seperti sang senior, (alm) Irjen (Purn) Wilmar Marpaung. Semoga. Bravo Polri, teruslah berbuat baik.***