Toxic Parents, Mengganggu Belajar Anak?

Selasa, 28 Juni 2022 | 15:17 WIB

Orangtua adalah jendela dunia anak dalam meniti kehidupan di lingkungan masyarakat untuk memperkenalkan diri sebagai makhluk hidup yang bermartabat. Dewasa ini, terjadi berbagai peristiwa yang berkenaan dengan perhatian yang kurang terhadap perkembangan anak. Secara tidak langsung, ini menandakan bahwa gangguan psikologi anak akan berpengaruh penting terhadapbelajar anak terutama di sekolah. Hal tersebut dikarenakan hadirnyatoxic parentsyang merupakan perilaku mengabaikan perasaan yang ditujukan orangtua terhadap anak dalam mendidik serta membesarkannya.

Tasya Talitha dalam tulisannya di Gramedia Blog yang berjudul “Mengenal Toxic Parents” menuliskan bahwa toxic parents ini merupakan pola pengasuhan anak yang buruk dan negatif dengan mempengaruhi secara mental maupun jasmani sang anak. Beliau juga mengatakan bahwa orangtua terkadang melakukan hal diluar kemauan anak dengan dalih kasih sayang dan kecintaan terhadap anak. Namun tanpa disadari bahwa inilah yang justru menjadi dasar dari perkembangan pola pikir anak yang salah.

Menghadapi anak-anak pada zaman sekarang ini sungguh sangat berat diakibatkan adanya kesempatan besar yang dinikmati dari internet, teknologi, atau bahkan media sosial yang dengan cepat menghubungkan kegiatan orang-orang satu dengan yang lain. Ada banyak kejadian yang dirasakan oleh orangtua seperti kewalahan dalam mendidik anak, sulit menanggapi sikap anak yang diluar batas (misalnya narkoba, merokok, tawuran, dan pergaulan bebas), serta terselenggaranya kepribadian anak yang aneh. Hal tersebut terjadi karena tidak mempelajari situasi zaman dan mengikuti arus global yang semakin membesar dan meningkat. Akibatnya, banyak anak terabaikan dan melakukan segala sesuatunya sesuai dengan yang dipelajari dari dunia luar.

Dulu, anak mudah dikontrol karena tidak memiliki handphonedan orangtua juga belum terlalu fokus terhadap kehadiran gadget tersebut sehingga memiliki konsentrasi tinggi terhadap perkembangan anak. Lalu, apa yang terjadi pada zaman ini? Sejujurnya, kehadiran seluruhnya tentang perkembangan yang ada adalah bahagia, bersyukur, dan adanya kemudahan dalam segala sisi bentuk kegiatan yang kita jalani. Namun, ada banyak hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa arus zaman mengontrol kehidupan manusia dan dapat disaksikan bahwa banyak orang terjerumus didalamnya termasuk orangtua zaman sekarang dan terlebih lagi anak-anak. Adanya hal tersebut menjadikan kedua objek ini tak mampu membendung rasa keingintahuan yang tinggi. Lalu, anak akan mulai membiasakan diri dengan hal yang di dapat dari internet dan kemudian memberi prakteknya di kehidupannya sehari-hari.

Kebiasaan ini akan mulai menyadarkan orangtua sehingga memunculkan toxic parentsdengan berbagai ciri misalnya orangtua yang mengganggu privasi anak, mengontrol kehidupan anak secara terpaksa, dan memaksakan cita-cita pribadi terhadap masa depan anak. Mengapa demikian? Sebuah kesalahan yang terlambat disadari bahwa anak sudah sangat menikmati kebiasaan baru yang telah diciptakannya dan ini disebabkanoleh lingkungan sekitar yang telah sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Jadi, ketika pemberitahuan bentuk larangan dan aturan yang menyangkut penggunaan internet misalnya membuat anak frustasi dan semakin berbuat ulah. Dasarnya adalah orangtua yang membimbing dan mengarahkan seharusnya memulai ketika anak ingin diperhatikan.

Kehadiran toxic parents hanya akan memperburuk keadaan anak yang telah terjerumus ke dalam dunia yang telah digelutinya. Anak adalah objek yang sangat sensitif dan mudah terinfeksi dengan hal baru dalam dunia yang dipelajarinya. Maka, orangtua yang sebenarnya memiliki ekspetasi tinggi terhadap prestasi anak disekolah akan musnah begitu saja. Seorang anak tidak ingin diabaikan karena hal tersebut tentu berpengaruh terhadap cara belajar dan akan mudah mengabaikan pelajaran yang disampaikan oleh tenaga pendidik. Oleh karena itu, orangtua perlu melakukan pendekatan romansa secara perlahan dan diharapkan tidak menyakiti perasaan anak dari kekerasan verbal yang notabene sering dilakukan. Orangtua wajib memiliki waktu yang lebih luang untuk membuat anak terbuka kembali terhadap apa yang dirasakan dan dipikirkannya.

Bergelut dalam dunia kependidikan, tentu sangat banyak kisah anak singgah dalam perjalanan mengikuti proses belajar mengajar. Anak-anak bercerita tentang orangtua yang tidak mendukung usaha anak masuk Paskas, orangtua mengekang anak untuk terjun bebas bermain bersama teman-temannya disekitar, orangtua bahkan menyekolahkan anak yang secara sadar anak tersebut tidak memiliki keinginan bersekolah ditempat yang dituju orangtuanya. Dari berbagai kisah ini, teringat seorang ahli yang bernama Haditono pernah berkata bahwa anak adalah makhluk yang membutuhkan kasih sayang, pemeliharaan, dan tempat bagi perkembangannya.

Artinya, bahwa anak sangat membutuhkan pengertian dari orang dewasa untuk memahami keinginan dan perjuangannya. Dukungan secara moril orangtua dalam mendidik anak sangatlah berpengaruh, sebut saja salah satunya memotivasi anak ikut lomba menyanyi walau tahu bahwa suara anak tidak begitu merdu. Namun, disinilah peran orangtua memberi pemahaman secara perlahan bahwa anak pasti akan mencapai keinginan apabila terus dipantau dan diberi perhatian yang lebih banyak.

Dengan demikian, orangtua memiliki tanggungjawab besar dalam memahami kondisi anak baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun lingkungan tempat tinggal. Jika tidak, biasanya anak hanya akan menjadi korban bullying atau bahkan sebaliknya menjadi pemimpin bullying itu sendiri. Semoga toxic parents tidak menyebar luas dengan kehadiran teknologi canggih yang menyita seluruh perhatian manusia untuk berfokus dan berselancar di media sosial. Akan tetapi, orangtua mempelajari zaman dan teknologi sebagai bentuk kepedulian terhadap kehidupan keluarga terutama perkembangan anak-anak. (bp)