KTT G-20 di Istana Konstantinovsky Rusia

Jumat, 1 Juli 2022 | 00:03 WIB

Catatan: Asro Kamal Rokan

ISTANA KONSTANTINOVSKY (Constantine Palace) di Strelna menjadi pusat perhatian. Berjarak sekitar 20 km di luar kota St Petersburg, Rusia, sebanyak 19 Kepala Negara dan satu pemimpin Uni Eropa anggota Group 20 (G-20) hadir di kawasan eksklusif ini. Meski ada jalan darat ke tempat ini, namun aksesnya ditutup kecuali untuk Kepala Negara angota G-20.

Menuju Istana Konstantinovsky, sejumlah kapal cepat berbentuk kapsul dipersiapkan dari pelabuhan St Petersburg ke Strelna. Kapal menyelusuri Teluk Finskiy (Teluk Finlandia) di Laut Baltik, sekitar 20 menit. Hanya yang memiliki ID Card G-20 dapat ikut kapal cepat ini, di antaranya peserta dan wartawan peliput KTT G-20, yang berlangsung pada 5-6 September 2013.

Istana Konstantinovsky, pusat kegiatan Kepala Negara G-20, merupakan bangunan bersejarah. Istana yang didirikan pada 1720, pernah jadi tempat tinggal bangsawan dinasti Romanov. Pada 1797, istana tersebut menjadi tempat tinggal Grand Duke Constantine — yang merupakan asal nama istana ini.

Menurut sejumlah catatan, ketika Revolusi 1917 pecah, berbagai barang-barang hilang. Namun beberapa lukisan dan buku-buku dapat diselamatkan dan kini tersebar di berbagai museum. Revolusi 1917 mengubah Rusia menjadi negara komunis dengan menumbangkan kekuasaan Tsar Nicholas II yang mereka tuduh diktator.

Kondisi istana semakin memburuk pada Perang Dunia II, terjadi sejumlah kerusakan akibat pemboman. Hanya tembok istana yang tersisa; semua dekorasi interior hilang. Pada 1990, UNESCO menjadikan istana ini sebagai warisan dunia. Pemerintah Rusia melakukan renovasi, mengembalikan kemegahan Istana Konstantinovsky.

Istana megah ini dikelilingi taman-taman yang dihiasi dengan ansambel air mancur, kanal, dan jembatan. Bangunannya berarsitektur Rusia abad XVIII. Di bagian dalam terdapat banyak lukisan Rusia, seni dekoratif, dan terapan abad XVIII-XX, termasuk koleksi Rostropovich dan Vishnevskaya yang terkenal. Ada juga gudang anggur, yang mengoleksi anggur terkemuka di dunia.

Renovasi besar-besaran ini dinikmati seluruh Kepala Negara dan pemimpin KTT G-20. Presiden Rusia Vladimir Putin seakan ingin memperlihatkan masa lalu Rusia yang hebat dan gemerlap. Di sini, Putin menerima tamu-tamu terhormatnya. Sesi pertama KTT G-20 berlangsung di meja bundar di Marble Hall, Istana Konstantinovsky. Sesi itu membahas “Pertumbuhan dan Stabilitas Keuangan”.

Kepala Negara yang hadir, antara lain Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden AS Barack Obama, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Prancis, Presiden China, Presiden Brazil, Kanselir Jerman, Presiden Turki, Kanada, Italia, India, Arab Saudi, Australia, Korea Selatan, dan Jepang. Indonesia satu-satunya anggota G-20 dari Asia Tenggara.

Sayangnya, fokus pemberitaan KTT G-20, yang membahas ekonomi dunia ini, terbelah. Pers lebih tertarik pada ketegangan hubungan Rusia dan Amerika Serikat. Ada dua isu memicu ketegangan, yang berakibat rencana pertemuan bilateral Putin-Obama batal.

Isu pertama menyangkut rencana AS menyerang Suriah. Putin menentang rencana AS tersebut. Isu kedua, yang tidak kalah sensitifnya adalah pemberian suaka Rusia kepada Edward Snowden, pembocor rahasia intelijen AS.

Namun dalam sesi sidang maupun sesi foto bersama, Obama dan Putin — yang mengapit Presiden Susilo Bambang Yudhoyono — terlihat akrab berbincang, tidak ada kesan ketegangan antar keduanya.

KTT G-20 merupakan forum ekonomi 19 negara plus Uni Eropa, yang bergengsi. Indonesia menjadi anggota sejak awal berdiri pada1999, menyusul krisis moneter setahun sebelumnya. Hingga 2008, pertemuan G-20 dihadiri setingkat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral.

Pada 14-15 November 2008, Presiden Amerika Serikat George W. Bush berinisiatif mengundang para pemimpin negara-negara G20 dalam KTT. Inilah KTT pertama kalinya. Indonesia dipimpin Presiden Yudhoyono.

Selanjutnya, setiap dua tahun KTT diselenggarakan, di Cannes, Prancis (2011); Los Cabos, Mexico (2012); St. Petersburg, Rusia (2013); Brisbane, Australia (2014); Antalya, Turki (2015); Hangzhou, RRT (2016); Hamburg, Jerman (2017); Buenos Aires, Argentina (2018); Osaka, Japan (2019). Indonesia akan menjadi tuan rumah pada 2022.

Selama dua hari, kami bolak-balik dari St Petersburg ke Strelna, menggunakan feri gratis dan mewah. Kami menginap di hotel Radisson Nevsky di Goncharnaya, St Petersburg. Di hotel berjarak sekitar 50 meter dari stasiun Petersburg-Glavny, kami hanya menumpang tidur karena seharian di Strelna.

Saint Petersburg

Saint Petersburg berpenduduk sekitar 5 juta jiwa. Air Sungai Neva yang jernih mengalir di bawah jembatan-jembatan kuno. Kota besar kedua Rusia ini didirikan Tsar Peter the Great pada 27 Mei 1703. Dari sinilah asal nama St Petersburg. Sejak 1713, Saint Petersburg adalah ibu kota Rusia, sebelum pindah ke Moskow pada 1918.

Kota ini sempat berubah nama menjadi Petrograd, setelah Perang Dunia I pecah, 1914. Kemudian berubah lagi menjadi Leningrad, setelah kematian tokoh komunis Vladimir Lenin, 1924. Kota budaya – tempat Hermitage, salah satu museum seni terbesar di dunia – ini kembali menggunakan nama Petersburg (kota Peter) pada 6 September 1991.

Dekat lingkaran Arktik, bagian utara Eropa, fonomena midnight sun juga menerpa St Petersburg. Setiap tahun, April – Agustus, matahari bersinar hingga malam. Pada masa-masa itu di kota ini diselenggarakan festival White Nights.

Berbagai karnaval digelar, antara lain di pinggiran Peterhof. Di sini, para seniman mengenakan kostum Peter the Great dan Catherine the Great. Karnaval seni juga diselenggarakan di Palace Square, sebagai panggung pertunjukan kostum Tsar dan Tsarinas.

Kota ini menjadi saksi serangan pasukan Nazi Jerman selama 882 hari, sejak September 1941. Pasukan Uni Soviet membebaskan kota ini pada 27 Januari 1944. Diperkirakan lebih 1.5 juta jiwa meninggal akibat peperangan dan kelaparan. Pemerintah Soviet menjadikan kota ini sebagai Kota Pahlawan. Film Attack on Leningrad produksi 2009, menjelaskan situasi masa itu.

Kota ini indah. Liukan sungai Neva melintasi St Petersburg — dari Danau Ladoga ke Teluk Finlandia — memperindah kota ini, sehingga dijuluki Venesia di Rusia. Turis menaiki cruises menyusuri sungai berair jernih ini, sambil melihat arsitektur kota St. Petersburg, yang bergaya Eropa.

Dari Sungai Neva itu pula, dapat dilihat kubah masjid berwarna hijau. Ini adalah masjid raya Petersburg, yang berdiri sejak 1913. Peletakan batu pertama pada 1910 untuk memperingati 25 tahun pemerintahan Abdul Ahat Khan di Bukhara. Masjid dua menara setinggi 49 meter dan kubah 39 meter ini, terbesar di Eropa, di luar Turki. Posisi masjid – yang dapat menampung 5.000 jamaah ini – sangat strategis di pusat kota.

(Bagian dari Buku Catatan Perjalanan Lima Benua, Granada Menangislah)