Kritik Terhadap Kegagalan Pemerintah dalam Perencanaan Pengembangan dan Pembangunan Terminal Bus Terpadu fan Sarana Pendukungnya

Senin, 27 Juni 2022 | 18:25 WIB

Oleh: Satria Juniardi Sinambela, ST, Ars
Mahasiswa Program Magister Sekolah Pascasarjana Program Studi Perencaaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK. Kritik adalah merupakan serangkaian tanggapan atau respon dari hasil
sebuah pengamatan / penelitian terhadap suatu karya, perbuatan dan kebijakan. Kritik Deskriptif bersifat tidak menilai (justifikasi), tidak menafsirkan, atau semata-mata membantu orang melihat apa yang sesungguhnya ada. Kritik ini berusaha mencirikan fakta-fakta yang menyangkut sesuatu ruang lingkup dan lingkungan tertentu.

Dibanding metode kritik lain kritik deskriptif tampak lebih nyata (factual). Sedangkan kalau ditinjau dari sudut pandang arsitektur, Kritik Arsitektur adalah tanggapan dari hasil sebuah pengamatan/penelitian terhadap suatu karya arsitektur.

Kritik Arsitektur dilakukan dengan cara mengamati dan memahami suatu karya arsitektur untuk selanjutnya ditindaklanjuti dengan ucapan dalam bentuk pernyataan,
ungkapan dan penggambaran dari suatu karya arsitektur tersebut. Dalam penulisan
paper ini, Penulis yang berlatar belakang keilmuan arsitek melakukan pembahasan
dari sudut pandang arsitektural atas sesuatu kegagalan program pengembangan wilayah salah satunya adalah pembangunan terminal bus terpadu yang memakan biaya besar namun tidak berfungsi dengan baik. Keadaan ini merupakan Indikasi kegagalan beberapa pemerintah Kabupaten dan Kota di Provinsi Sumatera Utara dalam merencanakan satu pembangunan (dalam kasus ini penulis mengambil 6 Kabupaten/Kota). Dengan menggunakan pendekatan metodologi, literasi teori perencanaan arsitektural dan teori perencanaan pembangunan wilayah. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif.

Pendekatan kualitatif dilakukan untuk menggali variabel kualitas ruang arsitektur dan
perencanaan pembangunan wilayah. Selanjutnya pendekatan kuantitatif dilakukan
untuk menggali persepsi dan evaluasi terhadap kualitas aspek arsitektur dan perencanaan wilayah.

LATAR BELAKANG. Provinsi Sumatera Utara adalah provinsi terbesar ke 5 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Memiliki 33 kabupaten dan kota dengan jumlah penduduk sekitar 15,18 juta jiwa (Data BPS Sumut : Juni 2021). Dan sampai saat ini pembangunan infrastruktur pendukung guna meningkatkan perekonomian giat dilaksanakan akan tetapi cukup banyak hasil kerja proyek pembangunan fisik yang mubazir dan tidak terurus (terlantar) yang tersebar baik proyek yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi, kabupaten maupun kota. Pada umumnya pembangunan fisik terhadap sarana prasarana wilayah bertujuan untuk pengembangan wilayah.

Perencanaan pembangunan wilayah biasanya
diikuti dengan satu aksi pembangunan sarana
dan prasarana infrastruktur wilayah tersebut
seperti pembangunan Pasar, Terminal, objek
Pariwisata, Pelabuhan/dermaga, TPI dan sentra kegiatan ekenomi masyarakat. Dimana setiap proyek pengembangan pembangunan wilayah selalu berdampingan dengan pembangunan akses jalan yang telah ditetapkan menjadi satu zona pengembangan sesuai rencana tata ruang wilayah.

Dalam karya tulis ini, penulis adalah seorang yang berlatar belakang keilmuan arsitektur dan perencanaan pembangunan wilayah akan melakukan penelitian dan pembahasan dari sudut pandang dan kritik arsitektural dengan menggunakan pendekatan metodologi, literasi terhadap teori perencanaan arsitektural dan teori perencanaan pembangunan wilayah. Karena kaitannya sangat erat karena merupakan satu kerangka pemikiran dan satu visi yaitu perencana. Yang membedakannya adalah hanya pada lingkup perencanaannya. Perencanaan arsitektural, mencakup perencanaan yang spesifik yaitu merancang, menata ruang dalam dan ruang luar, desain, estetika, etika dan perilaku penghuninya. Sedangkan perencanaan wilayah lebih luas yaitu mencakup regulasi, sosio-ekonomi, sosio-budaya, teritorial (batas wilayah), topografi, demografi dan unsur-unsur pembentuk wilayah itu sendiri.

MATERI PEMBAHASAN. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan
kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan untuk menggali variabel kualitas sudut pandang arsitektur dan perencanaan pembangunan wilayah. Selanjutnya pendekatan kuantitatif dilakukan untuk menggali persepsi dan evaluasi terhadap kualitas aspek arsitektur dan perencanaan wilayah. Sesuai materi karya tulis, yaitu kritik deskriftif terhadap pemerintah. Oleh karenanya penulis mengambil tema “Kegagalan Pemerintah dalam Perencanaan Pengembangan dan Pembangunan Area Terminal Bus Terpadu dan Sarana Pendukungnya (Studi Kasus : Kawasan Terminal Terpadu Kabupaten/ Kota di Provinsi Sumatera Utara).” Sebut saja Terminal Bus Terpadu Amplas Medan, Terminal Bus Lubuk Pakam DeliSerdang, Terminal Tebing Tinggi, Terminal Bus Kisaran di Asahan, Terminal Pasar X di Langkat, dan masih banyak terminal – terminal lainnya.

Untuk terwujudnya proyek pembangunan kawasan terminal bus terpadu ini diperlukan pembiayaan yang cukup besar. Proses perencanaan dan pengajuan hingga realisasi pembiayaannyapun tidak sederhana serta harus menggerakkan sumberdaya multi program dan multi sektor.

Hampir keseluruhan dananya dari pembagian dan pendekatan ke pemerintah pusat. Namun sangat disayangkan setelah selesai, bangunan tidak efektif dimanfaatkan bahkan lebih layak disebut terlantar. Sehingga tidak jarang kawasan tersebut digunakan oleh masyarakat dengan aktivitas-aktivitas kriminal dan kejahatan lainnya.

Kesan “menyeramkan dan premanisme” justru lebih sering dialamatkan pada bangunan-bangunan terminal bus yang ada. Jika seseorang menyebutkan terminal bus, yang pertama sekali terlintas dalam pikiran kita adalah preman, seram, tidak aman dan hal negatif lainnya.

METODE KRITIK. Kritik adalah merupakan serangkaian tanggapan atau respon dari
hasil sebuah pengamatan / penelitian terhadap suatu karya, perbuatan dan kebijakan. Sedangkan kalau ditinjau dari sudut pandang arsitektur, Kritik Arsitektur adalah tanggapan dari hasil sebuah pengamatan / penelitian terhadap suatu karya arsitektur. Kritik Arsitektur dilakukan dengan cara mengamati dan memahami suatu karya arsitektur untuk selanjutnya ditindaklanjuti dengan ucapan dalam bentuk pernyataan, ungkapan dan penggambaran dari suatu karya arsitektur tersebut. Dalam penelitian yang dilakukan, Penulis meggunakan Kritik Arsitektur Deskriptif, yaitu melakukan kritisi suatu karya arsitektur dengan cara mendeskriptifkan (uraian) berdasarkan kenyataan atau fakta.
Kritik Deskriptif bersifat tidak menilai (justifikasi), tidak menafsirkan, atau semata-
mata membantu orang melihat apa yang sesungguhnya ada. Kritik ini berusaha
mencirikan fakta-fakta yang menyangkut sesuatu ruang lingkup dan lingkungan
tertentu. Dibanding metode kritik lain kritik deskriptif tampak lebih nyata (factual).

Kritik Arsitektur Deskriptif dibagi dalam beberapa metode, yaitu : Metode Depiktif
merupakan metode yang menyatakan apa yang sesungguhnya ada dan terjadi secara
nyata. Contohnya, saat melakukan survei lokasi untuk pembangunan yaitu bagaimana
pun kondisi site dipaparkan dengan apa adanya tanpa di kurang-kurangi atau di lebih-lebihkan; Metode Biografis merupakan metode yang hanya mencurahkan perhatiannya kepada sang arsitek yang membuat karya arsitektur tersebut, khususnya aktifitas yang telah dilakukannya. Memahami dengan logis perkembangan sang arsitek sangat diperlukan untuk memisahkan perhatian kita terhadap intensitasnya pada karya-karyanya secara spesifik. Contohnya, pengaruh kesukaan Frank Llyod Wright saat remaja pada permainan lipatan kertas terhadap bangunan-bangunan yang dirancangnya, informasi seperti ini memberi kita kesempatan untuk lebih memahami dan menilai sang arsitek terhadap karya-karyanya; Metode Kontekstual merupakan metode yang membahas dengan teliti untuk lebih mengerti suatu karya arsitektur. Contohnya, proyek apa yang sedang dibangun, mengapa proyek tersebut dibangun,
siapa perencananya, dan pertanyaan lain mengenai karya arsitektur tersebut hingga
ke akarnya; Deskriptif mencatat fakta-fakta pengalaman seseorang terhadap bangunan atau kota dengan maksud dan tujuan : (1) Lebih bertujuan pada kenyataan bahwa jika kita tahu
apa yang sesungguhnya suatu kejadian dan proses kejadiannya maka kita dapat lebih
memahami makna bangunan; (2) Lebih dipahami sebagai sebuah landasan untuk
memahami bangunan melalui berbagai unsur bentuk yang ditampilkannya; (3) Tidak
dipandang sebagai bentuk to judge atau to interprete. Tetapi sekadar metode untuk
melihat bangunan sebagaimana apa adanya dan apa yang terjadi di dalamnya.

PERMASALAHAN. Permasalahan angkutan jalan darat saat ini adalah kualitas
pelayanan terminal yang terus menurun, sementara di sisi lain terjadi perubahan pola
perjalanan masyarakat. Tuntutan kualitas pelayanan transportasi umum meningkat seiring dengan peningkatan kualitas pendidikan dan perekonomian masyarakat.
Sayangnya, teknologi informasi yang memaksa perubahan manajemen transportasi
angkutan umum ternyata kurang diimbangi oleh regulasi angkutan jalan. Regulasi atau
aturan angkutan jalan masih sulit berubah kendati moda lain sudah banyak melakukan
perubahan. Contohnya, masih banyak terjadi awak bus yang pendapatannya dibayar hanya berdasarkan persentase setoran harian kepada pengusaha angkutan umum.

Wajar jika hingga kini, pelayanan terminal bus masih mendapat stigma buruk di masyarakat. Bahwa di terminal masih banyak calo tiket, kumuh, kotor, bau, tindak kriminal (copet, pelecehan seksual), dan tidak steril untuk penumpang. Kondisi seperti inilah yang mengakibatkan pengguna angkutan umum bus enggan datang ke terminal. Terlebih terminal bus selalu berada di lokasi pinggiran kota yang sangat jauh aksesnya dari pusat kota. Semakin jauh terminal bus dari pusat keramaian kota,
menyebabkan masyarakat kesulitan mengaksesnya. Bila menggunakan angkutan umum menuju ke terminal terlalu merepotkan karena mungkin harus transit beberapa kali.

Perlu diketahui, umumnya masyarakat bepergian jauh pasti membawa barang bawaan
banyak yang tentunya memerlukan kemudahan untuk transit. Bandingkan dengan moda kereta api yang letak stasiunnya berada di tengah kota, tentunya masyarakat akan lebih mudah dan nyaman datang, sehingga demand kereta api selalu meningkat tiap tahun. Letak lokasi terminal bus dan bandar udara sama-sama di pinggiran yang jauh dari pusat kota, tetapi pesawat terbang jauh lebih cepat sampai ke tujuan dibandingkan moda angkutan umum bus walau menggunakan akses jalan tol.
Mengunakan pesawat dari Medan cukup waktu tempuh 1 jam tiba di Pinangsor, Sibolga, sedangkan menggunakan moda bus memerlukan waktu paling cepat 7-8 jam
(via tol). Bila mengharapkan moda angkutan bus tetap dilirik oleh masyarakat memang sebaiknya pilihan lokasi terminal bus berada di pusat kota atau pusat keramaian masyarakat (ruang komunal). Pemerintah sebagai pemangku kebijakan dalam perencanaan pembangunan kewilayahan dan perkotaan seharusnya peka terhadap fenomena yang ada di masyarakat. Pembangunan-pembangunan terminal bus yang mubazir dan terkesan terlantar ini perlu mendapat evaluasi dalam
melaksanakan perencanaan pembangunan khususnya terminal dan fasilitas umum dan
sarana publik.

TUJUAN PENULISAN. Berdasarkan uraian permasalahan di atas maka tujuan dari
penulisan karya tulis ini adalah : (1) Memahami arti dari perencanaan pembangunan;
(2) Mengetahui penyebab dari kegagalan perencanaan pembangunan; (3) Menemukan
solusi tepat untuk memperbaiki kegagalan perencanaan pembangunan

PEMBAHASAN. Sebelum mendifinisikan perencanaan pembangunan perlu dipahami
dahulu makna perencanaan pembangunan. Perencanaan adalah pemilihan dan
menghubungkan fakta-fakta, membuat serta menggunakan asumsi-asumsi yang
berkaitan dengan masa datang dengan menggambarkan dan merumuskan kegiatan-
kegiatan tertentu yang diyakini diperlukan untuk mencapai suatu hasil tertentu
(George R. Terry, 1975). Pembangunan merupakan suatu proses perubahan kearah
yang lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana (kartasasmita, 1994)
selain itu pembangunan sebagai suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan
perubahan yang berencana dan dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan
pemerintah.

Perencanaan pembangunan merupakan kegiatan hampirsama dengan riset/
penelitian, dikarenakan instrumen yang digunakan adalah metode-metode riset.
Kegiatannya berawal dari teknik pengumpulan data, analisis data sampai dengan studi
lapangan untuk memperoleh data-data yang akurat. Data yang dilapangan sebagai
data penting dan utama yang akan dipakai dalam kegiatan perencanaan.

Selain itu, harus dipahami juga hakekat perencanaan dalam konteks kepentingan
publik (public domain). Berkenaan dengan pengertian teori, dapat dinyatakan bahwa
sebuah teori dibentuk secara bersama-sama oleh pengetahuan akal-sehat dan ilmiah.
Kedua jenis pengetahuan itulah yang menjadi basis bagi Penulisan logika serta segala
argumentasi dibaliknya, yang sering disebut sebagai dalil. Berlandaskan pada pendapat di atas, selanjutnya Anda dapat menyatakan bahwa teori adalah sebuah rangkaian dalil. Dengan kata lain, dalil adalah unsur utama pembentuk teori.

Untuk melakukan suatu analisis hiptesa terhadap penelitian suatu objek pembangunan
suatu kawasan, diperlukan indikator hipotesis yaitu terhadap hasil dari tindakan Monitoring (M) Pengendalian (P) dan Evaluasi (E) dari pelaksanaan pembangunan tersebut. Monitoring merupakan kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana, mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin. Hasil akhirnya adalah Pelaporan. Pengendalian adalah serangkaian kegiatan pengambilan keputusan yang cepat dimaksudkan untuk menjamin agar suatu program/kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Hasil akhirnya berupa Tindakan/Keputusan.

Evaluasi merupakan proses menentukan nilai atau pentingnya suatu kegiatan, kebijakan, atau program. Evaluasi adalah sebuah penilaian yang subyektif dan sesistematik mungkin terhadap sebuah intervensi yang direncanakan, sedang berlangsung atau pun yang telah diselesaikan. Evaluasi menurut PP 39/2006, adalah Rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input), keluaran (output), dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar yang telah ditetapkan. Masukan untuk
perencanaan yang akan datang.

Tindakan MPE berguna untuk : (1) Untuk menjamin terlaksananya kebijakan, program
dan proyek sesuai dengan target dan rencana yang telah ditetapkan (on Track – on
Schedulle) (M); (2) Agar ada umpan balik terhadap kebijakan, program dan proyek, untuk diteruskan dilanjutkan dengan perbaikan atau dihentikan (M/E); (3) Untuk membantu pemangku kepentingan belajar lebih banyak mengenai kebijakan, program dan proyek (E); (4) Agar kebijakan, program dan proyek mampu mempertanggungjawabkan penggunaan dana publik (akuntabilitas) (E). Menurut PP 39/2006, disebutkan bahwa Monitoring merupakan kegiatan rutin, sedang berjalan dan internal, dipergunakan untuk mengumpulkan informasi terhadap keluaran, hasil dan indikator yang akan dipergunakan untuk Mengevaluasi kinerja program.

EVALUASI. Evaluasi dilakukan secara periodik dan berkala, menganalisis data yang telah diperoleh dari Monitoring dan Evaluator untuk memberikan penilaian atas pelaksanaan rencana, dan sebagai umpan balik periodik kepada pemangku kepentingan utama. Yang dilakukan oleh Evaluator antara lain : merencanakan evaluasi, melaksanakan atau menjalankan evaluasi (atau mempekerjakan staf untuk melaksanakan evaluasi), berkonsultasi dan berkoordinasi dengan semua pemangku kepentingan (Tidak ada sub-ordinasi), mengidentifikasi standar efektifitas, mencari, mengumpulkan, menganalisa, menginterpretasikan dan melaporkan data serta temuan, memberikan rekomendasi, mengelola anggaran evaluasi dan mengembangkan teori perubahan/ Evaluasi.

Menurut Kartasasmita dalam Administrasi
Pembangunan : Perkembangan Pemikiran dan Praktiknya di Indonesia, LP3ES, 1997, setidaknya terdapat empat hal yang dapat menyebabkan kegagalan perencanaan.
Pertama, Penulisan perencanaan tidak tepat, mungkin karena informasinya kurang lengkap, metodologinya belum dikuasai, dan perencanaannya tidak realistis, sehingga
tidak mungkin terlaksana. Kedua, perencanaan mungkin baik, tetapi pelaksanaan tidak seperti seharusnya karena ketidakterkaitan perencanaan dengan pelaksanaan, pelaksana yang tidak siap atau tidak kompeten, serta masyarakat tidak berkesempatan berpartisipasi, sehingga tidak mendukung.

Kiat – Kiat Mengatasi Kegagalan Perencanaan Pembanguman

Dikutip dari pendapat ahli perencanaan bahwasanya diperlukan kiat/cara untuk mengantisipasi kegagalan perencanaan pembangunan, seperti : (1) Meningkatkan mutu dan kemampuan, serta keterampilan baik dalam melaksanakan tugas maupun
kepemimpinan; (2) Melatih dan meningkatkan mekanisme kerja dan kepekaan dalam
melaksanakan tugas; (3) Melatih dan meningkatkan kinerja dalam merencanakan; (4) Meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Dalam evaluasi pendidikan dan
pelatihan perencana dijelaskan bahwa Evaluasi Diklat Perencana Dalam pelaksanaan diklat perencanaan pusat ke daerah terdapat beberapa paradoks yang substansial
perencanaan maupun pelaksanaan diklat itu sendiri. Paradoks pertama, perencanaan
adalah bagian dari siklus manajemen pemba- ngunan. Bagian lainnya adalah penganggaran, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi. Dalam kenyataannya, monitoring dan evaluasi belum dilaksanakan dengan semestinya, sehingga proses perencanaan pembangunan daerah belum mendapat masukan dari hasil evaluasi dokumen perencanaan pada periode sebelumnya. Paradoks kedua adalah banyaknya
peraturan menyangkut monitoring dan evaluasi yang dikeluarkan pemerintah pusat.
Namun demikian, dari banyaknya aturan tersebut tidak ada satu pun yang menjadi
kepentingan daerah. Sementara itu, yang dilaporkan kepada pemerintah pusat juga
tidak dimanfaatkan secara efektif dan efisien
Dalam konteks pembangunan, terutama pembangunan wilayah dan kota. Perlu
dipahami terlebih dahulu keterkaitan antara perencanaan dan pembangunan. Sebagai
langkah awal dapat dikemukakan bahwa secara umum pembangunan dapat diartikan
sebagai proses untuk membuat “sesuatu” menjadi lebih baik (to get something better). Berkenaan dengan membuat “sesuatu” menjadi lebih baik, Sandy (1992) menyampaikan beberapa dalil yang berkaitan dengan pembangunan sebagai berikut :
(1) Selain menjelaskan tentang pilihan yang telah ditetapkan, rencana juga memuat
penjelasan tentang alasan penetapan dan cara menjalankan pilihan tersebut; (2)
Setiap konsepsi pembangunan adalah pemikiran yang harus dapat diwujudkan, bukan sekedar latihan akademis; (3) Perwujudan konsepsi pembangunan haruslah benar-benar dapat menjamin peningkatan kesejahteraan rakyat sebesar-besarnya; (4)
Membangun adalah untuk keperluan masyarakat yang hidup saat ini, namun harus
mempertimbangkan daya guna selama mungkin bagi mereka yang hidup di masa
datang; (5) Konsepsi pembangunan yang tidak bisa diwujudkan dan lebih banyak
menimbulkan kesusahan, keresahan, dan kerugian bagi masyarakat banyak adalah
konsepsi yang salah.

SARAN. Mengacu pada pendapat-pendapat ahli tentang perencanaan ini, dapat disimpulkan bahwa perencanaan adalah sebuah upaya yang dilakukan oleh manusia guna menetapkan pilihan dari sekian banyak alternatif yang tersedia. Untuk itu, dapat disampaikan beberapa saran sebagai berikut :
• Setiap kebijakan perencanaan pembangunan wilayah baru lazimnya diikuti oleh kebijakan lainnya baik sisi regulasi maupun teknisnya. Apabila kebijakan baru yang direncanakan telah dilaksanakan tanpa diikuti kebijakan publik dari pemerintah, maka pembangunan tersebut akan tidak efisien dan terlantar yang
pada akhirnya hal tersebut dapat dikategorikan sebagai kebijakan yang gagal.
• Meningkatkan mekanisme kerja dan kepekaan setiap stakeholders dalam melaksanakan tugas perencanaan. Perencanaan harus didukung data yang lengkap, menguasai metodologi, realistis. Dan dalam setiap kegiatan perencaan
hendaknya selalu kolaborasi dengan para ahli-ahli perencanaan
• Perencanaan yang baik juga harus diikuti oleh pelaksanaan baik pula. Sebaiknya perencana dan pelaksana sinkron. Karena ketidakterkaitan perencanaan dengan
pelaksanaan, pelaksana yang tidak siap atau tidak kompeten, serta masyarakat tidak berkesempatan berpartisipasi, sehingga tidak mendukung pembangunan, maka perencanaan akan tetap menjadi gagal.
• Meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan agar dapat melakukan
perencanaan secara komprehensif, kolaboratif, inovatif dan ilmiah karena menyangkut masa depan manusia.